“Sebaiknya sih disudahi saja, mumpung belum terlanjur. Kalau
saudaraan sih gak papa.” Kata emmakku. Emmakku sedang berbincang dengan
tetangga sebelah. Awalnya sih ndak ada niatan untuk membicarakan tentang masa
depanku. Ini kan lagi lebaran hari
ketiga di tempatku, kenapa malah jadi ngomongin tentangku sih? Aku paling males
kalau berbicara mengenai hal ini. Terlebih privasiku. Aku yang sedari tadi
terdiam mendengarkan emmakku berbicara hanya bisa diam diam dan diam. Sampai di
rumah aku langsung menuju kamarku tercinta. Kurenungi apa saja kata-kata yang
diucapkan emmakku. Miris memang. Tapi mau bagaimana lagi, ya beginilah. Tidak
hanya sekali beliau berkata hal ini kepadaku, sudah berkali-kali. Tapi malam ini
rasanya nyesek sekali. Aku yang tak terima dengan semua apa yang harus terjadi.
Kenapa harus seperti ini? Kenapa tidak sesuai dengan rencanaku? Apakah aku
tidak boleh berencana?
Pacaran terjalin sejak Juli 2011 sampai detik ini Juli 2014,
haruskah kandas begitu saja? Sulit dipercaya memang. Walaupun tak semulus
perjalanan kasih, namun baru pertama kalinya kini, aku mampu menjalani hubungan
dengan seorang cowok sampai selama itu, dan hanya satu cowok saja. Dan apakah
usahaku harus sia-sia? Iya?
Alasan orang tuaku menasehatiku seperti itu, tidak lain dan tidak
bukan ingin menjaga keutuhan rumah tangga kakaknya. Hidup di Jawa memang harus
patuh dengan kebudayaan Jawa. Konon katanya kalau aku menikah dengannya sih,
ada yang kalah antara kita ataukah kakaknya. Itu semua karena kakaknya sudah
dapet orang di tempatku, jadi kalau aku sama dia ndak boleh lah. Apalagi
katanya simbahnya juga orang sini, kalau kata emmakku “Kebo balik kandang” dan
itupun ndak boleh menurut ajaran Jawa. Percaya nggak sih? Apakah di jaman
modern seperti ini harus percaya dengan begituan? Apa aku boleh menentangnya?
Bagaimana caraku menentang semuanya, kalau dia juga percaya dengan hal seperti
itu? Apakah aku juga harus belajar menerima kenyataan pahit ini?
Tuhan, seperti inikah ending yang kau berikan kepadaku, aku hanya
ingin menikah dengannya, tidak dengan yang lain. Dengannya, udah dengannya
ajah. Nggak mau dengan yang lain. Apakah dia punya keinginan yang sama
denganku?
Teringat waktu itu saat aku membaca buku pribadinya, di sana tertulis
semua cita-citanya, kubaca sampai bawah, kok nggak ada namaku di deretan
tulisan yang begitu banyaknya? Apakah itu tanda kalau aku tak akan pernah jadi
cita-cita hidupnya, sakit memang saat itu, pengen nangis sih, tapi ngga deh,
berusaha husnudzon ajah.
Tuhan, langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Cukupkah
sekian saja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar