Minggu, 22 Februari 2026

Sebelum Sampai

 Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Aku menyalakan motor pemberian Ayah, seperti hari-hari lain sejak kelas satu SMA. Jarak rumah ke sekolah dua belas kilometer. Tidak dekat, tapi juga bukan masalah besar jika ditempuh dengan angin yang menyapu wajah dan lagu favorit yang mengalun pelan dari headset sebelah telinga.


Setiap pulang sekolah, hampir selalu ada suara yang sama.


“Boleh ikut?”

“Anterin sampai simpang ya?”

“Nebeng dong, sekalian searah.”


Dan aku hampir tidak pernah bilang tidak.


Entah kenapa, rasanya menyenangkan bisa membantu. Rasanya seperti punya peran kecil yang berarti dalam hidup orang lain. Aku sampai hafal rumah teman-temanku yang gangnya sempit, yang pagarnya biru, yang harus belok dua kali setelah warung bakso. Kadang aku bercanda, “Aku ini ojek gratis berseragam putih abu-abu.”


Siang itu, seperti biasa, seorang teman mendekat sambil tersenyum lelah.

“Antar ke rumahku ya? Seperti biasa.”


Aku mengangguk. Tidak berpikir panjang. Kami tertawa sepanjang jalan, membahas ulangan matematika dan guru yang wajahnya selalu serius. Jalanan ramai, tapi terasa ringan.


Sampai kami melihat kerumunan di depan gerbang komplek.


Beberapa motor berhenti. Ada mobil polisi terparkir di pinggir jalan. Aku dan temanku saling pandang, penasaran.


“Ada apa ya?”


Belum sempat menebak, seorang polisi melangkah mendekat dan mengangkat tangan.


“Stop, Mbak.”


Jantungku berdebar, tapi aku berusaha tenang. Motor kumatikan.


“Boleh minta SIM sama STNK?”


Tanpa ragu, kuberikan. Tanganku bahkan tidak gemetar. Aku merasa tidak melakukan apa-apa yang salah.


Polisi itu memeriksa sebentar, lalu mengeluarkan kertas dan bolpennya.


“SIM-nya kami tahan ya, Mbak. Mbak melanggar peraturan lalu lintas.”


Aku tertegun.

“Lho? Maksudnya gimana, Pak?”


Beliau menunjuk ke belakang.

“Karena Mbak membonceng orang yang tidak pakai helm.”


Seperti disambar sesuatu, aku langsung menoleh. Temanku memang tidak memakai helm. Helm cadanganku tertinggal di rumah sejak kemarin karena kupinjamkan pada sepupuku. Dan entah kenapa, hari ini aku tidak berpikir untuk memastikan.


“Astagaaa…” gumamku pelan.


Aku terlalu terbiasa berkata iya. Terlalu terbiasa ingin membantu. Sampai lupa bahwa membantu juga harus dengan tanggung jawab.


Temanku terlihat bersalah.

“Maaf ya…”


Aku menggeleng pelan. Ini bukan sepenuhnya salahnya. Aku yang mengendarai motor. Aku yang seharusnya memastikan semuanya aman.


Akhirnya temanku turun dan berjalan kaki menuju rumahnya yang sebenarnya tinggal beberapa ratus meter lagi. Aku memandang punggungnya menjauh, sementara di tanganku tergenggam selembar surat tilang yang terasa lebih berat dari kertas biasa.


Perjalanan pulang terasa berbeda. Angin yang tadi terasa menyenangkan kini seperti mengingatkanku pada satu hal sederhana: niat baik saja tidak cukup.


Sesampainya di rumah, Ayah menatapku heran saat melihat wajahku murung.


“Kenapa?”


Aku menyerahkan surat tilang itu tanpa banyak kata.


Ayah tidak langsung marah. Beliau hanya berkata pelan,

“Menolong orang itu baik. Tapi jangan sampai lupa aturan. Aturan dibuat bukan untuk menghalangi, tapi untuk menjaga.”


Malam itu aku merenung lama.


Aku tetap ingin membantu teman-temanku. Tetap ingin menjadi orang yang ringan tangan. Tapi sekarang aku tahu, mengatakan “tunggu, pakai helm dulu” juga bentuk kepedulian.


Sejak hari itu, setiap ada yang berkata, “Nebeng ya?”

Aku akan menjawab,


“Boleh. Tapi pakai helm.”


Karena ternyata, kebaikan juga perlu dilindungi.


Sabtu, 21 Februari 2026

Pagi Tanpa Notifikasi

Hari itu pelajaran olahraga terasa lebih melelahkan dari biasanya. Matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepala kami. Setelah lari keliling lapangan dan latihan passing, aku kembali ke kelas dengan napas masih terengah.


Seperti biasa, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa ponsel di dalam tas. Bukan untuk bermain. Hanya kebiasaan kecil, memastikan ia ada di tempatnya.


Tanganku meraba bagian dalam tas.


Kosong.


Aku berhenti. Mungkin terselip di saku depan. Kubuka resleting kecil. Tidak ada. Buku-buku kuangkat satu per satu. Tempat pensil kubalik. Tetap tidak ada.


Dadaku mulai berdebar. Aku berjongkok, memeriksa laci meja. Hanya ada kertas ulangan dan botol minum.


Hapeku hilang.


Aku berdiri dengan tangan dingin. Beberapa teman masih bercanda, belum menyadari wajahku yang pucat. Aku mencoba mengingat tadi pagi aku membawanya. Aku yakin. Bahkan sempat mengecek pesan sebelum pelajaran dimulai.


Segera aku melapor pada wali kelas.


Beliau mendengarkan dengan wajah datar, lalu berkata, “Lain kali hati-hati kalau bawa hape ya.”


Hanya itu.


Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada ajakan mengecek kelas. Tidak ada sidak tas. Tidak ada pengumuman.


Seolah yang hilang hanya penghapus, bukan sesuatu yang kubeli dari hasil menabung berbulan-bulan.


Aku kembali ke bangku dengan perasaan kosong. Lebih kosong dari tasku.


Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada kakakku. Ia terdiam sebentar, lalu mengusap kepalaku.


“Ya sudah, lain kali hati-hati. Besok kubelikan lagi.”


Aku ingin marah. Ingin berkata bahwa ini bukan hanya soal benda. Tapi kata-kata itu tertahan. Esoknya, kakakku benar-benar membelikanku ponsel yang sama persis. Warna yang sama. Model yang sama.


Aku berterima kasih. Tapi ada yang tetap mengganjal.


Keesokan paginya, seorang teman sekelasku menghampiri dengan senyum tipis.


“Aku punya hape sama kayak hapemu lho.”


Aku tersenyum kaku. “Oh ya?”


“Iya. Persis banget.”


Aku mengangguk. Tidak mau berburuk sangka. Tidak mau terlihat mencurigai. Tapi kenapa tiba-tiba ia perlu memberitahuku?


Sejak kapan ia memakai tipe itu?


Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai berisik di kepalaku.


Besoknya lagi, aku memberanikan diri kembali ke wali kelas.


“Bu, saya izin pinjam hape teman saya yang sama persis dengan yang hilang kemarin. Saya mau bawa box-nya. Di situ ada nomor IMEI. Saya cuma ingin memastikan.”


Beliau menatapku lama.


“Kamu jangan menuduh begitu.”


“Saya tidak menuduh, Bu. Saya cuma penasaran. Mau memastikan saja.”


Nada suaraku pelan, tapi tegas.


Namun pembicaraan itu berhenti di sana. Tidak ada izin. Tidak ada mediasi. Tidak ada ruang untuk memastikan.


Berita kehilangan hapeku perlahan lenyap begitu saja di sekolah. Tidak ada pengumuman susulan. Tidak ada tindak lanjut. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.


Aku duduk di bangku kelasku, memandangi teman-teman yang bercanda seperti biasa. Di tanganku, ponsel baru pemberian kakak terasa asing. Sama bentuknya, sama cahayanya, tapi tidak sama rasanya.


Aku akhirnya mengerti sesuatu.


Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan barang.


Tapi kehilangan kesempatan untuk mencari kebenaran.


Dan lebih dari itu, kehilangan rasa aman di tempat yang seharusnya menjagamu.


Sejak hari itu, aku belajar satu hal:

kehilangan bisa diganti dengan benda baru.

Tapi rasa percaya sekali hilang tidak selalu punya nomor untuk dipanggil kembali.