Sabtu, 14 Februari 2026

Sebelum Tinta Mengering

Namaku Arga. Seminggu lalu aku resmi lulus dari SMK. Teman-temanku sibuk membicarakan masa depan. Ada yang sudah diterima kerja, ada yang lolos kuliah negeri, ada juga yang santai karena orang tuanya mampu.


Aku? Justru paling banyak diam.


Suatu siang, aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Jantungku berdebar. Ternyata aku mendapat tawaran full beasiswa D1 di salah satu kampus ternama di Indonesia.


Full beasiswa. Gratis. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.


Aku pulang dengan kepala penuh pikiran.


Di rumah, adikku yang kedua sedang membantu Mamah melipat baju. Dua adikku yang lain masih bermain di lantai. Ayah belum pulang kerja. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Gaji Ayah hanya cukup untuk makan dan kebutuhan pokok. Sejak sekolah, aku tak pernah meminta uang jajan. Aku tahu keadaan rumah.


Pernah suatu waktu aku menjuarai lomba tingkat provinsi. Uang apresiasi yang kuterima langsung kuberikan pada Mamah.


“Hanya ini yang bisa Arga kasih,” kataku waktu itu.


Mamah menangis. Tapi aku tahu itu tangis bangga.


Malam ketika aku menceritakan soal beasiswa, suasana rumah berubah.


“Ambil kuliahnya, Ga,” kata Mamah tanpa ragu. “Kan semua beasiswa.”


“Tapi biaya sekolah adik?” tanyaku pelan. “Seragam, buku, daftar ulang…”


“Kita usahakan,” jawab Mamah, meski aku tahu itu tidak mudah.


Tiba-tiba adikku menyela, “Udah, gak usah berdebat. Aku gak usah sekolah saja.”


Aku menoleh tajam. “Jangan ngomong gitu.”


“Aku gak apa-apa, Kak.”


Aku tahu dia berbohong. Tidak ada anak seusianya yang benar-benar tidak ingin sekolah. Dia hanya tidak ingin jadi beban.


Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan penempatan kerja bagi lulusan. Namaku termasuk. Tempatnya bahkan satu lingkungan dengan tempat kerja keluargaku.


Di tanganku ada dua hal: surat penempatan kerja dan formulir konfirmasi beasiswa.


Aku merasa berdiri di persimpangan.


Malam sebelum batas terakhir pengumpulan berkas, aku duduk sendirian di ruang tamu. Formulir itu terbuka di depanku. Pulpen sudah di tangan, tapi tidak bergerak.


Dari kamar, terdengar suara adikku membaca buku pelajaran. Pelan. Seperti takut terdengar.


Aku memejamkan mata.


Keesokan paginya, aku menyerahkan satu keputusan ke sekolah.


Beberapa minggu kemudian, aku sudah mengenakan seragam kerja. Gaji pertamaku kuterima dengan perasaan campur aduk. Sebagian langsung kuserahkan untuk kebutuhan sekolah adik-adikku.


“Aku bakal belajar yang rajin, Kak,” kata adikku sambil memeluk buku barunya.


Aku tersenyum. Setidaknya untuk sekarang, semuanya terasa benar.


Namun malam itu, saat semua sudah tidur, ponselku berbunyi. Grup kelas ramai dengan foto gedung kampus, kartu mahasiswa, dan cerita hari pertama kuliah.


Ga, kamu jadi masuk, kan? tulis salah satu temanku.


Aku terdiam.


Di meja kecil kamarku masih tersimpan map berlogo kampus itu. Pihak kampus ternyata memberiku waktu satu minggu tambahan jika aku berubah pikiran.


Besok adalah hari terakhir.


Aku membuka map itu perlahan. Di halaman terakhir ada kolom tanda tangan yang masih kosong.


Tiba-tiba terdengar suara Mamah dari dapur. “Ga, kamu belum tidur?”


“Belum, Mah,” jawabku.


Beliau tidak bertanya apa-apa lagi. Tapi aku tahu, mungkin beliau masih menyimpan harapan yang tidak lagi diucapkan.


Aku menatap tanda tangan kosong itu lama sekali.


Di satu sisi, ada gaji bulanan dan wajah adik-adikku yang bisa sekolah tanpa takut.

Di sisi lain, ada kesempatan yang mungkin tak datang lagi.


Pulpen sudah di tanganku.


Aku menarik napas panjang.


Dan tepat ketika ujung tinta menyentuh kertas—


aku masih belum tahu, nama siapa yang akan kutulis untuk masa depanku.

Jumat, 13 Februari 2026

Suara yang Tetap Tegak

Malam itu aku berdiri paling depan.


Lampu lapangan asrama menggantung pucat seperti bulan buatan. Barisan tegak. Sepatu berderap serempak. Angin malam menyentuh wajahku yang tegang. Untuk pertama kalinya sejak menjadi calon taruna, aku dipercaya menjadi pemimpin apel malam.


Aba-aba pertama hampir tersendat di tenggorokanku.


Lalu aku melihat ayah.


Ia berdiri di balik pagar, tidak melambai, tidak berseru memanggil namaku. Tangannya terlipat di dada. Tatapannya lurus dan tenang—tatapan seseorang yang tidak lagi meragukan anaknya.


Entah mengapa, dadaku terasa penuh. Seolah dari jarak itu ia sedang menyerahkan sesuatu yang tak kasatmata: kepercayaan, mungkin juga harapan.


“Siap! Gerak!”


Suaraku mantap. Bahkan lebih mantap dari yang kubayangkan. Aku tidak ingin ia melihatku ragu.


Selesai apel, aku menghampiri mereka. Ibu tersenyum hangat. Adik-adikku berebut cerita. Ayah menepuk pundakku, seperti biasa—tidak keras, tapi cukup untuk membuatku merasa kuat.


“Kalau sudah berdiri di depan, jangan ragu,” katanya pelan. “Suaramu harus yakin.”


Aku mengangguk ringan. Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa. Seperti puluhan nasihat lain yang pernah ia ucapkan.


Sebelum pulang, ia berpesan, “Belajar yang benar. Rajin ibadah. Jaga mamah dan adik-adik.”


“Iya, Yah.”


Aku tidak tahu bahwa “iya” itu adalah jawaban terakhirku.




Hari berikutnya berjalan sebagaimana mestinya. Pelajaran, tugas, canda di sela istirahat. Aku masih menyimpan wajah ayah semalam dalam ingatan—wajah yang diterangi lampu lapangan, wajah yang bangga.


Sekitar pukul sepuluh malam, pintu asrama diketuk.


Jam bertamu sudah lewat. Aku tak menghiraukannya. Rara yang membukakan pintu.


Beberapa detik kemudian ia berlari masuk dengan wajah pucat.


“Kamu harus ke polibun sekarang.”


“Kenapa?”


Ia tidak menjawab. Hanya menyuruhku mengenakan pakaian lengkap. Di luar, sepupuku sudah menunggu di atas motor.


“Ayo, cepat.”


“Tapi izin wali asrama—”


“Sudah. Aman.”


Kata “aman” itu terasa ganjil. Terlalu pendek. Terlalu cepat.


Sepanjang perjalanan ia diam. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Aku mulai merasa tidak nyaman, tetapi pikiranku menolak kemungkinan buruk.


Tidak mungkin.

Tadi malam semuanya baik-baik saja.


Setibanya di polibun, lampu menyala terang. Banyak keluargaku berkumpul di teras. Wajah-wajah yang kukenal menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—campuran iba dan kehati-hatian.


Bude memelukku erat.

“Yang sabar ya, Nduk.”


Kalimat itu seperti kunci yang memutar sesuatu di dalam dadaku.


Aku digandeng masuk ke ruang IGD.


Di sana, waktu seperti berhenti.


Ibu duduk di sudut ranjang, bahunya gemetar tanpa suara. Dan di atas ranjang itu—ayah.


Tubuh yang semalam berdiri tegap kini terbaring sunyi. Wajah yang tadi malam diterangi lampu lapangan kini diterangi lampu putih yang dingin. Jarak antara dua cahaya itu terasa seperti jurang yang tak bisa kulompati.


Aku melangkah mendekat. Kakiku ringan sekaligus berat. Seperti berjalan di atas tanah yang tidak kukenal.


“Ayah…” suaraku nyaris tak terdengar.


Tidak ada jawaban.


Aku menunggu. Barangkali dadanya bergerak. Satu kali saja. Barangkali seseorang berkata ini hanya salah paham.


Namun ruangan itu terlalu sunyi untuk harapan.


Aneh, aku tidak langsung menangis. Justru pikiranku berlari liar.


Semalam ia berdiri.

Semalam ia berbicara tentang masa depanku.

Semalam ia berkata akan menemaniku sampai sukses.


Bagaimana mungkin waktu memisahkan dua malam yang begitu berdekatan menjadi dua dunia yang berbeda?


Aku menatap wajahnya. Mencari sisa kehangatan. Mencari tanda bahwa ini hanya jeda.


Mengapa tadi malam aku tidak memeluknya lebih lama?

Mengapa aku merasa apel lebih penting daripada duduk sebentar bersamanya?

Mengapa aku menjawab nasihatnya dengan ringan, seolah waktu kami masih panjang?


Tiba-tiba semua percakapan kecil berubah menjadi penyesalan besar.


“Suaramu harus yakin.”


Kalimat itu menggema di kepalaku.


Apakah ia tahu sesuatu yang tidak kuketahui?

Ataukah aku yang baru menyadari maknanya karena sudah kehilangan?


Dadaku terasa retak. Tangisku pecah pelan, seperti sesuatu yang runtuh dari dalam. Aku ingin memanggilnya sekali lagi. Ingin berkata bahwa aku belum siap kehilangan.


Tapi waktu tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.


Di luar ruangan, hidup tetap berjalan. Orang-orang berbicara pelan. Langkah kaki berlalu-lalang. Dunia tidak berhenti hanya karena duniaku runtuh.


Dan tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang menyakitkan: menjadi dewasa kadang bukan pilihan. Ia datang bersamaan dengan kehilangan.


Besok aku harus kembali ke asrama.


Kembali ke barisan.

Kembali berdiri paling depan jika jadwal memintaku.


Bagaimana caranya memberi aba-aba jika suaraku sendiri terasa kosong? Bagaimana caranya tampak tegar ketika bagian dalamku hancur?


Aku menatap wajah ayah sekali lagi—bukan untuk memastikan ia benar-benar pergi, melainkan untuk menghafal. Bukan wajah yang diam itu, tetapi wajah semalam yang diterangi lampu lapangan. Wajah yang percaya padaku.


Mungkin inilah arti berdiri di depan yang sesungguhnya.


Bukan tentang menjadi yang paling kuat.

Melainkan tetap melangkah meski separuh hatimu tertinggal.


Aku menghapus air mata. Mendekat pelan.


“Ayah,” bisikku dalam hati, “aku belum tahu caranya kuat tanpa kamu. Tapi aku akan mencoba.”


Karena mungkin, suara yang yakin bukan suara yang tidak pernah retak.


Melainkan suara yang tetap terdengar

meski pernah hancur.


Dan ketika nanti aku kembali berdiri di lapangan, menarik napas sebelum aba-aba pertama, mungkin suaraku tak lagi sama.


Namun di setiap jeda sebelum kata “Siap!” terucap,

akan ada satu suara yang tak terdengar oleh siapa pun—

suara yang dulu berdiri di balik pagar,

yang kini hidup dalam diamku.


Entah aku akan terdengar lebih tegak,

atau justru lebih rapuh dari yang terlihat.


Yang pasti, sejak malam itu,

setiap langkahku bukan lagi hanya milikku.


Ada janji yang belum sempat diucapkan dengan benar.


Dan aku harus belajar menepatinya—

tanpa pernah lagi mendengar jawabannya.