Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Aku menyalakan motor pemberian Ayah, seperti hari-hari lain sejak kelas satu SMA. Jarak rumah ke sekolah dua belas kilometer. Tidak dekat, tapi juga bukan masalah besar jika ditempuh dengan angin yang menyapu wajah dan lagu favorit yang mengalun pelan dari headset sebelah telinga.
Setiap pulang sekolah, hampir selalu ada suara yang sama.
“Boleh ikut?”
“Anterin sampai simpang ya?”
“Nebeng dong, sekalian searah.”
Dan aku hampir tidak pernah bilang tidak.
Entah kenapa, rasanya menyenangkan bisa membantu. Rasanya seperti punya peran kecil yang berarti dalam hidup orang lain. Aku sampai hafal rumah teman-temanku yang gangnya sempit, yang pagarnya biru, yang harus belok dua kali setelah warung bakso. Kadang aku bercanda, “Aku ini ojek gratis berseragam putih abu-abu.”
Siang itu, seperti biasa, seorang teman mendekat sambil tersenyum lelah.
“Antar ke rumahku ya? Seperti biasa.”
Aku mengangguk. Tidak berpikir panjang. Kami tertawa sepanjang jalan, membahas ulangan matematika dan guru yang wajahnya selalu serius. Jalanan ramai, tapi terasa ringan.
Sampai kami melihat kerumunan di depan gerbang komplek.
Beberapa motor berhenti. Ada mobil polisi terparkir di pinggir jalan. Aku dan temanku saling pandang, penasaran.
“Ada apa ya?”
Belum sempat menebak, seorang polisi melangkah mendekat dan mengangkat tangan.
“Stop, Mbak.”
Jantungku berdebar, tapi aku berusaha tenang. Motor kumatikan.
“Boleh minta SIM sama STNK?”
Tanpa ragu, kuberikan. Tanganku bahkan tidak gemetar. Aku merasa tidak melakukan apa-apa yang salah.
Polisi itu memeriksa sebentar, lalu mengeluarkan kertas dan bolpennya.
“SIM-nya kami tahan ya, Mbak. Mbak melanggar peraturan lalu lintas.”
Aku tertegun.
“Lho? Maksudnya gimana, Pak?”
Beliau menunjuk ke belakang.
“Karena Mbak membonceng orang yang tidak pakai helm.”
Seperti disambar sesuatu, aku langsung menoleh. Temanku memang tidak memakai helm. Helm cadanganku tertinggal di rumah sejak kemarin karena kupinjamkan pada sepupuku. Dan entah kenapa, hari ini aku tidak berpikir untuk memastikan.
“Astagaaa…” gumamku pelan.
Aku terlalu terbiasa berkata iya. Terlalu terbiasa ingin membantu. Sampai lupa bahwa membantu juga harus dengan tanggung jawab.
Temanku terlihat bersalah.
“Maaf ya…”
Aku menggeleng pelan. Ini bukan sepenuhnya salahnya. Aku yang mengendarai motor. Aku yang seharusnya memastikan semuanya aman.
Akhirnya temanku turun dan berjalan kaki menuju rumahnya yang sebenarnya tinggal beberapa ratus meter lagi. Aku memandang punggungnya menjauh, sementara di tanganku tergenggam selembar surat tilang yang terasa lebih berat dari kertas biasa.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Angin yang tadi terasa menyenangkan kini seperti mengingatkanku pada satu hal sederhana: niat baik saja tidak cukup.
Sesampainya di rumah, Ayah menatapku heran saat melihat wajahku murung.
“Kenapa?”
Aku menyerahkan surat tilang itu tanpa banyak kata.
Ayah tidak langsung marah. Beliau hanya berkata pelan,
“Menolong orang itu baik. Tapi jangan sampai lupa aturan. Aturan dibuat bukan untuk menghalangi, tapi untuk menjaga.”
Malam itu aku merenung lama.
Aku tetap ingin membantu teman-temanku. Tetap ingin menjadi orang yang ringan tangan. Tapi sekarang aku tahu, mengatakan “tunggu, pakai helm dulu” juga bentuk kepedulian.
Sejak hari itu, setiap ada yang berkata, “Nebeng ya?”
Aku akan menjawab,
“Boleh. Tapi pakai helm.”
Karena ternyata, kebaikan juga perlu dilindungi.