Rabu, 18 Februari 2026

Sunyi Penuh Luka

Sejak kelas X, aku terbiasa datang paling pagi.


Gerbang sekolah bahkan kadang belum sepenuhnya terbuka saat aku sudah duduk di bangku depan kelas. Aku suka suasana pagi: tenang, belum banyak suara, belum banyak alasan.


Tugasku sebagai ketua kelas membuatku harus menyiapkan daftar hadir, memastikan papan tulis bersih, dan mengingatkan teman-teman soal jadwal piket. Kalau ada presentasi, aku selalu memastikan proyektor siap sebelum guru datang.


Aku juga aktif di perpustakaan dan tim publikasi sekolah. Selesai pelajaran, saat teman-teman pulang, aku masih menyusun rak buku atau mengedit dokumentasi kegiatan.


Aku selalu memakai seragam sesuai jadwal. Bahkan pernah pulang lagi ke rumah karena salah pakai atribut.


Entah kenapa, aku merasa harus memberi contoh.


Tapi lama-lama, ada yang mengganjal.


Beberapa teman sering datang terlambat. Ada yang masuk kelas tanpa atribut lengkap. Ada yang tidak pernah mengerjakan piket. Tapi saat upacara, mereka yang paling lantang meneriakkan yel-yel tentang disiplin.


Lucunya lagi, ada yang tidak pernah aktif di organisasi, tapi namanya tetap tercatat sebagai pengurus inti demi memenuhi syarat poin prestasi.


Pernah suatu hari, seorang teman tertidur saat jam pelajaran tambahan. Guru hanya tersenyum dan membiarkannya. Tapi ketika aku sekali saja lupa mengumpulkan laporan tepat waktu karena harus mengurus dua kegiatan sekaligus, namaku disebut di grup kelas.


“Ketua kelas harusnya lebih bertanggung jawab.”


Aku membaca pesan itu berulang kali.


Aku ingin membalas. Ingin bertanya kenapa aturan terasa berbeda. Kenapa yang berusaha justru lebih sering ditegur.


Suatu sore, saat membereskan buku piket, aku melihat Raka, teman yang sering terlambat, duduk santai di tangga.


“Ngapain masih di sini?” tanyanya.


“Nyelesain laporan.”


“Capek nggak sih jadi anak baik terus?” ia tertawa kecil.


Aku terdiam.


Capek? Iya.


Kadang muncul rasa tidak ikhlas. Nilai kami tidak jauh berbeda. Uang SPP yang dibayar orang tua kami sama. Tapi usaha yang dikeluarkan rasanya berbeda jauh.


Aku hampir saja berhenti.


Hampir saja berpikir, untuk apa datang paling pagi kalau yang datang terakhir pun tetap diperlakukan sama?


Tapi keesokan paginya, tanpa sadar kakiku tetap melangkah lebih awal ke sekolah.


Bukan karena ingin dipuji.

Bukan karena takut ditegur.


Tapi karena aku sadar satu hal: kalau aku ikut-ikutan longgar hanya karena orang lain longgar, lalu siapa yang tersisa untuk menjaga standar?


Mungkin dunia memang tidak selalu adil.

Mungkin tidak semua usaha langsung terlihat.


Tapi integritas bukan soal siapa yang melihat.

Ia tentang siapa dirimu saat tak ada yang menilai.


Dan hari itu, saat kembali menuliskan daftar hadir di papan, aku memilih tetap menjadi diriku sendiri, meski kadang terasa sepi.


Tanggal yang Sama

 Sejak kelas X, aku selalu jadi orang pertama yang ribut kalau ada yang ulang tahun.


Aku hafal tanggal lahir hampir semua teman sekelas. Bahkan tanggal lahir wali kelas pun kusimpan di kalender ponselku. Kalau ada yang ulang tahun, aku yang menginisiasi patungan. Kalau tak sempat beli kue, minimal aku bawakan cokelat kecil dengan tulisan tangan: “Terima kasih sudah hadir di dunia.”


Aku juga sering mentraktir teman yang aktif saat diskusi kelompok. “Biar semangatnya nular,” kataku setiap kali mereka menolak.


Aku senang membuat orang lain merasa dirayakan.


Lalu tibalah hariku.


Sejak bangun pagi, aku sadar tanggal di layar ponselku berbeda. Ada rasa hangat kecil di dada. Bukan karena berharap pesta. Hanya… penasaran.


Di sekolah, semuanya berjalan biasa.


Aku tetap menjawab pertanyaan guru. Tetap tertawa saat Dika salah menyebut istilah. Tetap membantu Rani menyusun slide presentasinya.


Tidak ada yang berubah.


Jam istirahat, aku duduk di bangku dekat lapangan. Biasanya, kalau ada yang ulang tahun, aku akan datang sambil pura-pura lupa, lalu tiba-tiba menyanyikan lagu dengan suara paling sumbang.


Hari itu, tidak ada yang datang.


Aku membuka ponsel. Tidak ada notifikasi khusus. Grup kelas membahas tugas. Grup organisasi membahas lomba. Tidak ada satu pun pesan pribadi.


Aku mencoba berpikir positif. Mungkin mereka menyiapkan kejutan.


Sampai bel pulang berbunyi.


Aku berjalan keluar kelas dengan langkah pelan. Melewati papan mading yang biasa kupakai untuk menempel ucapan ulang tahun teman-teman. Minggu lalu masih ada kertas bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Sinta!” kertas yang kubuat sendiri.


Sekarang papan itu kosong.


Di rumah, suasana tak jauh berbeda. Ibu sibuk dengan pekerjaannya. Ayah belum pulang. Adikku mengunci diri di kamar.


Aku masuk ke kamarku. Duduk di tepi ranjang. Menatap langit-langit.


Lucu ya, pikirku. Aku begitu mudah mengingat orang lain. Tapi rupanya aku tidak cukup penting untuk diingat.


Atau mungkin… aku yang terlalu sering terlihat kuat dan tidak butuh dirayakan.


Malam semakin larut.


Ponselku tetap sunyi.


Aku membuka galeri. Ada foto-foto teman yang tertawa saat kue mereka kupegangi. Ada video saat mereka meniup lilin. Ada wajah-wajah yang kuabadikan saat mereka merasa istimewa.


Tanganku berhenti di satu foto: diriku sendiri, memegang kue untuk orang lain, tersenyum lebar.


Aku menatap foto itu lama.


Jam di dinding menunjukkan pukul 23.57.


Tiga menit lagi tanggal ini berakhir.


Aku menarik napas panjang. Mungkin memang tidak semua kebaikan harus kembali dalam bentuk yang sama.


Atau mungkin… belum kembali.


Detik berganti.


Pukul 00.00.


Ponselku tiba-tiba bergetar.


Satu pesan masuk.


Aku menatap layar yang menyala di kegelapan kamar.


Nama pengirimnya membuat jantungku berdegup lebih cepat.


Aku belum membukanya.


Karena entah kenapa, di antara kecewa dan harap, aku takut:

kalau ternyata bukan seperti yang kubayangkan.


Menolak Nama Palsu

Aku siswa kelas XI yang terlalu sering berkata “iya”.


Sejak kelas X, aku dipercaya menjadi ketua klub literasi. Aku juga membantu guru mengelola perpustakaan sekolah, mendata buku, membuat laporan peminjaman, sampai menyiapkan proposal lomba. Selain itu, aku masih harus mengurus divisi publikasi OSIS karena tidak ada yang benar-benar mau mengerjakannya.


Capek? Iya.

Menyesal? Tidak juga. Aku merasa dipercaya.


Masalahnya, semua itu tidak tercatat sebagai poin resmi organisasi yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa prestasi tahun depan. Katanya, kegiatanku tidak “linier” dengan jalur yang kuambil. Sertifikatku hanya tercatat sebagai anggota klub sastra.


Suatu siang setelah rapat, pembina OSIS memanggilku.


“Kita mau bantu Dimas,” katanya pelan. “Dia kurang poin organisasi untuk daftar beasiswa. Jadi untuk struktur resmi pengurus perpustakaan, namanya yang akan dicatat sebagai ketua.”


Aku mengangguk. “Berarti saya berhenti, Bu?”


“Oh tidak,” jawabnya cepat. “Kamu tetap jalankan seperti biasa. Kamu kan sudah paham alurnya. Hanya namanya saja yang masuk di sistem. Dimas butuh segera.”


Aku terdiam.


“Anggap saja membantu teman,” tambahnya.


Aku mencoba tersenyum, tapi hatiku seperti ditarik pelan-pelan.


Malamnya aku membuka file laporan perpustakaan di laptop. Semua data ada di sana: rekap peminjaman, proposal pengadaan buku, hingga rancangan program literasi kelas X yang ingin kubagi jadi tiga kelompok agar lebih efektif. Bahkan aku sudah menghitung kalau proyek itu berjalan, Dimas bisa dapat tambahan poin tanpa harus mengambil namaku.


Ada juga opsi lain. Divisi laboratorium biologi yang selama ini tidak aktif bisa dihidupkan kembali dan dikelola Dimas. Tapi mungkin itu terlalu merepotkan.


Besoknya aku melihat papan struktur organisasi sudah diperbarui. Namaku hilang. Nama Dimas terpampang jelas sebagai Ketua Perpustakaan.


Aku mengecek data kegiatan yang beredar untuk pengajuan beasiswa. Tercatat: Dimas aktif 11 jam per minggu di perpustakaan. Padahal aku tahu persis ia hanya datang sesekali.


Sepulang sekolah, aku menemui pembina.


“Bu, kalau memang mau dialihkan, saya tidak masalah. Tapi sekalian saja tugasnya. Biar Dimas yang jalankan. Saya fokus di klub literasi dan publikasi.”


Beliau terlihat ragu. “Tapi nanti perpustakaan tidak jalan.”


“Saya tidak keberatan kehilangan jabatan,” kataku pelan. “Walaupun mungkin nanti saya lebih lama dapat beasiswa dibanding Dimas. Tapi rasanya tidak adil kalau nama dan kerja tidak sejalan.”


Ruangan itu hening.


Aku tahu, jika aku mengalah, Dimas mungkin lebih dulu lolos seleksi. Sedangkan aku harus menunggu tahun berikutnya. Aku tahu risikonya.


Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam diriku yang menolak dicatat sebagai bayangan.


Sore itu aku berdiri di depan lemari perpustakaan, memegang kunci seperti biasa. Dimas belum datang. Buku-buku masih berantakan.


Kalau kubuka pintunya, berarti aku menerima semuanya.


Kalau kututup dan menyerahkan kuncinya, mungkin akan ada yang kecewa.


Aku menatap pantulan wajahku di kaca lemari.


Apakah aku egois karena ingin namaku sejalan dengan pekerjaanku?

Atau justru untuk pertama kalinya, aku sedang belajar berdiri untuk diriku sendiri?