Namaku Arga. Seminggu lalu aku resmi lulus dari SMK. Teman-temanku sibuk membicarakan masa depan. Ada yang sudah diterima kerja, ada yang lolos kuliah negeri, ada juga yang santai karena orang tuanya mampu.
Aku? Justru paling banyak diam.
Suatu siang, aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Jantungku berdebar. Ternyata aku mendapat tawaran full beasiswa D1 di salah satu kampus ternama di Indonesia.
Full beasiswa. Gratis. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Aku pulang dengan kepala penuh pikiran.
Di rumah, adikku yang kedua sedang membantu Mamah melipat baju. Dua adikku yang lain masih bermain di lantai. Ayah belum pulang kerja. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Gaji Ayah hanya cukup untuk makan dan kebutuhan pokok. Sejak sekolah, aku tak pernah meminta uang jajan. Aku tahu keadaan rumah.
Pernah suatu waktu aku menjuarai lomba tingkat provinsi. Uang apresiasi yang kuterima langsung kuberikan pada Mamah.
“Hanya ini yang bisa Arga kasih,” kataku waktu itu.
Mamah menangis. Tapi aku tahu itu tangis bangga.
Malam ketika aku menceritakan soal beasiswa, suasana rumah berubah.
“Ambil kuliahnya, Ga,” kata Mamah tanpa ragu. “Kan semua beasiswa.”
“Tapi biaya sekolah adik?” tanyaku pelan. “Seragam, buku, daftar ulang…”
“Kita usahakan,” jawab Mamah, meski aku tahu itu tidak mudah.
Tiba-tiba adikku menyela, “Udah, gak usah berdebat. Aku gak usah sekolah saja.”
Aku menoleh tajam. “Jangan ngomong gitu.”
“Aku gak apa-apa, Kak.”
Aku tahu dia berbohong. Tidak ada anak seusianya yang benar-benar tidak ingin sekolah. Dia hanya tidak ingin jadi beban.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan penempatan kerja bagi lulusan. Namaku termasuk. Tempatnya bahkan satu lingkungan dengan tempat kerja keluargaku.
Di tanganku ada dua hal: surat penempatan kerja dan formulir konfirmasi beasiswa.
Aku merasa berdiri di persimpangan.
Malam sebelum batas terakhir pengumpulan berkas, aku duduk sendirian di ruang tamu. Formulir itu terbuka di depanku. Pulpen sudah di tangan, tapi tidak bergerak.
Dari kamar, terdengar suara adikku membaca buku pelajaran. Pelan. Seperti takut terdengar.
Aku memejamkan mata.
Keesokan paginya, aku menyerahkan satu keputusan ke sekolah.
Beberapa minggu kemudian, aku sudah mengenakan seragam kerja. Gaji pertamaku kuterima dengan perasaan campur aduk. Sebagian langsung kuserahkan untuk kebutuhan sekolah adik-adikku.
“Aku bakal belajar yang rajin, Kak,” kata adikku sambil memeluk buku barunya.
Aku tersenyum. Setidaknya untuk sekarang, semuanya terasa benar.
Namun malam itu, saat semua sudah tidur, ponselku berbunyi. Grup kelas ramai dengan foto gedung kampus, kartu mahasiswa, dan cerita hari pertama kuliah.
Ga, kamu jadi masuk, kan? tulis salah satu temanku.
Aku terdiam.
Di meja kecil kamarku masih tersimpan map berlogo kampus itu. Pihak kampus ternyata memberiku waktu satu minggu tambahan jika aku berubah pikiran.
Besok adalah hari terakhir.
Aku membuka map itu perlahan. Di halaman terakhir ada kolom tanda tangan yang masih kosong.
Tiba-tiba terdengar suara Mamah dari dapur. “Ga, kamu belum tidur?”
“Belum, Mah,” jawabku.
Beliau tidak bertanya apa-apa lagi. Tapi aku tahu, mungkin beliau masih menyimpan harapan yang tidak lagi diucapkan.
Aku menatap tanda tangan kosong itu lama sekali.
Di satu sisi, ada gaji bulanan dan wajah adik-adikku yang bisa sekolah tanpa takut.
Di sisi lain, ada kesempatan yang mungkin tak datang lagi.
Pulpen sudah di tanganku.
Aku menarik napas panjang.
Dan tepat ketika ujung tinta menyentuh kertas—
aku masih belum tahu, nama siapa yang akan kutulis untuk masa depanku.