Sabtu, 21 Februari 2026

Pagi Tanpa Notifikasi

Hari itu pelajaran olahraga terasa lebih melelahkan dari biasanya. Matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepala kami. Setelah lari keliling lapangan dan latihan passing, aku kembali ke kelas dengan napas masih terengah.


Seperti biasa, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa ponsel di dalam tas. Bukan untuk bermain. Hanya kebiasaan kecil, memastikan ia ada di tempatnya.


Tanganku meraba bagian dalam tas.


Kosong.


Aku berhenti. Mungkin terselip di saku depan. Kubuka resleting kecil. Tidak ada. Buku-buku kuangkat satu per satu. Tempat pensil kubalik. Tetap tidak ada.


Dadaku mulai berdebar. Aku berjongkok, memeriksa laci meja. Hanya ada kertas ulangan dan botol minum.


Hapeku hilang.


Aku berdiri dengan tangan dingin. Beberapa teman masih bercanda, belum menyadari wajahku yang pucat. Aku mencoba mengingat tadi pagi aku membawanya. Aku yakin. Bahkan sempat mengecek pesan sebelum pelajaran dimulai.


Segera aku melapor pada wali kelas.


Beliau mendengarkan dengan wajah datar, lalu berkata, “Lain kali hati-hati kalau bawa hape ya.”


Hanya itu.


Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada ajakan mengecek kelas. Tidak ada sidak tas. Tidak ada pengumuman.


Seolah yang hilang hanya penghapus, bukan sesuatu yang kubeli dari hasil menabung berbulan-bulan.


Aku kembali ke bangku dengan perasaan kosong. Lebih kosong dari tasku.


Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada kakakku. Ia terdiam sebentar, lalu mengusap kepalaku.


“Ya sudah, lain kali hati-hati. Besok kubelikan lagi.”


Aku ingin marah. Ingin berkata bahwa ini bukan hanya soal benda. Tapi kata-kata itu tertahan. Esoknya, kakakku benar-benar membelikanku ponsel yang sama persis. Warna yang sama. Model yang sama.


Aku berterima kasih. Tapi ada yang tetap mengganjal.


Keesokan paginya, seorang teman sekelasku menghampiri dengan senyum tipis.


“Aku punya hape sama kayak hapemu lho.”


Aku tersenyum kaku. “Oh ya?”


“Iya. Persis banget.”


Aku mengangguk. Tidak mau berburuk sangka. Tidak mau terlihat mencurigai. Tapi kenapa tiba-tiba ia perlu memberitahuku?


Sejak kapan ia memakai tipe itu?


Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai berisik di kepalaku.


Besoknya lagi, aku memberanikan diri kembali ke wali kelas.


“Bu, saya izin pinjam hape teman saya yang sama persis dengan yang hilang kemarin. Saya mau bawa box-nya. Di situ ada nomor IMEI. Saya cuma ingin memastikan.”


Beliau menatapku lama.


“Kamu jangan menuduh begitu.”


“Saya tidak menuduh, Bu. Saya cuma penasaran. Mau memastikan saja.”


Nada suaraku pelan, tapi tegas.


Namun pembicaraan itu berhenti di sana. Tidak ada izin. Tidak ada mediasi. Tidak ada ruang untuk memastikan.


Berita kehilangan hapeku perlahan lenyap begitu saja di sekolah. Tidak ada pengumuman susulan. Tidak ada tindak lanjut. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.


Aku duduk di bangku kelasku, memandangi teman-teman yang bercanda seperti biasa. Di tanganku, ponsel baru pemberian kakak terasa asing. Sama bentuknya, sama cahayanya, tapi tidak sama rasanya.


Aku akhirnya mengerti sesuatu.


Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan barang.


Tapi kehilangan kesempatan untuk mencari kebenaran.


Dan lebih dari itu, kehilangan rasa aman di tempat yang seharusnya menjagamu.


Sejak hari itu, aku belajar satu hal:

kehilangan bisa diganti dengan benda baru.

Tapi rasa percaya sekali hilang tidak selalu punya nomor untuk dipanggil kembali.


Jumat, 20 Februari 2026

Tulang di Tenggorokan

Jam istirahat pertama selalu jadi waktu paling ramai di kelasku. Meja-meja digeser, bekal dibuka, dan obrolan mengalir lebih deras dari bel masuk.


Hari itu aku duduk bersama Raka dan Dimas di bangku dekat jendela. Raka membuka kotak makannya dengan percaya diri.


“Ayamnya banyak banget, Ka,” kataku spontan.


Raka tersenyum miring. “Ah, segini mah biasa. Di rumahku, ayam setengah kilo itu sekali makan habis. Apalagi kalau buat aku. Bisa ludes di depan mata.”


Dimas ikut tertawa. “Wih, sultan.”


Aku ikut tersenyum, tapi tanganku refleks menutup kotak bekalku sedikit. Isinya cuma nasi, tempe goreng, dan telur ceplok setengah matang. Ayam? Kadang ada, kadang tidak. Tergantung kondisi.


“Serius, Ka?” tanyaku, berusaha terdengar santai.


“Iya lah. Nyokap kalau masak banyak. Kalau cuma setengah kilo mah nggak kerasa.”


Kalimat itu terdengar ringan. Tapi entah kenapa, seperti ada yang menekan dadaku. Setengah kilo. Habis di depan mata.


Aku jadi ingat seminggu lalu saat aku dan ibu belanja di warung Bu Sari sepulang sekolah. Ibu berdiri lama di depan etalase ayam potong. Tangannya memegang plastik, lalu meletakkannya lagi.


“Ambil berapa, Bu?” tanya Bu Sari.


“Seperempat aja dulu,” jawab ibu pelan. “Dicatat ya, Bu. Minggu depan saya bayar.”


Aku pura-pura sibuk memilih cabai, seolah tidak mendengar nada lirih itu.


Dan sekarang, di hadapanku, setengah kilo terdengar seperti ukuran harga diri.


Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba Tio dari bangku belakang ikut nimbrung.


“Ah, paling juga cuma gaya,” celetuknya. “Kemarin gue lihat nyokap lo beli di warung Bu Sari. Cuma tahu sama tempe.”


Suasana mendadak hening.


Wajah Raka berubah. “Sok tahu lo!”


“Bener kok. Gue lagi di situ.”


Beberapa teman mulai berbisik. Ada yang tertawa kecil. Ada yang saling melirik. Aku bisa melihat rahang Raka mengeras.


“Apa urusannya sama lo?” bentaknya.


Aku menelan ludah. Ini bukan lagi soal ayam. Ini soal harga diri yang terasa disinggung.


“Udah lah,” kataku pelan, mencoba menenangkan. “Makan aja. Nanti keburu bel masuk.”


Tapi Raka sudah keburu berdiri. “Nggak usah ikut campur.”


Aku menatap kotak makan di depanku. Tempe goreng itu tiba-tiba terasa berat. Rasanya ingin berkata sesuatu, tapi takut salah.


Akhirnya aku memberanikan diri.


“Ka,” panggilku pelan. “Menurutku bukan soal setengah kilo atau seperempat kilo. Yang penting kita masih bisa makan. Masih bisa sekolah. Itu udah cukup.”


Raka menoleh. Matanya masih panas, tapi tidak lagi setajam tadi.


Aku melanjutkan, lebih pelan, “Kadang kita capek kelihatan paling mampu. Padahal yang bikin kita kuat itu bukan banyaknya lauk… tapi rasa syukur.”


Kelas kembali sunyi. Tio menunduk. Dimas berhenti tertawa. Raka perlahan duduk kembali.


Ia membuka kotak makannya tanpa bicara. Ayam gorengnya memang terlihat banyak. Tapi kali ini tidak ada lagi yang membandingkan.


Bel masuk berbunyi.


Saat semua kembali ke tempat duduk masing-masing, aku sadar sesuatu: bukan ayam yang bisa habis di depan mata.


Tapi persahabatan… bisa saja ludes hanya karena kita ingin terlihat lebih dari yang lain.


Dan hari itu, aku belajar: lebih baik menjaga hati daripada menjaga gengsi.