“Bu, saya diterima.”
Kalimat itu tidak keras. Ia justru datang seperti desir angin yang menyentuh pelepah—pelan, tetapi menggetarkan batang terdalam.
Aruna tidak segera menjawab. Di tangannya, kertas-kertas tugas murid bergetar halus, seolah turut merasakan gempa kecil yang baru saja terjadi di dalam dadanya. Di hadapannya, Raka berdiri dengan mata yang menyala—mata yang dulu pernah redup oleh beban yang terlalu dini.
“Pendidikan Bahasa Indonesia, Bu.”
Langit siang menggantung luas di atas Rantala Estate. Sawit-sawit itu berdiri rapi, seperti harapan yang dilantunkan alam tanpa pernah meminta jawaban. Bau tanah, peluh, dan getah menyatu dengan udara—aroma kehidupan yang tidak gemerlap, tetapi jujur.
Di sanalah Aruna menyadari: tak semua keberhasilan bersuara lantang. Sebagian hanya berdesir, seperti akar yang menghunjam dalam gelap.
***
Agustus 2016 adalah persimpangan yang tidak memilihnya dengan lembut.
Ia datang membawa koper sederhana dan hati yang belum pulih dari kehilangan. Babe telah pergi, dan bersama kepergiannya, sebagian arah hidup ikut tercerabut. Rencana studi yang semula terang menjadi kabur. Peta masa depan terlipat tanpa sempat dibaca tuntas.
Namun hidup tidak memberi waktu untuk berkabung terlalu lama.
Ada adik yang harus sampai pada garis kelulusan. Ada rumah yang harus tetap berdiri meski tiangnya hilang.
Pesan singkat dari Rima—teman lama yang tinggal jauh—datang seperti tawaran takdir: Di sini butuh guru.
Aruna menjawabnya bukan dengan keberanian utuh, melainkan dengan kepasrahan yang dipelajari dari kehilangan.
Ia pikir ia hanya akan singgah.
Ternyata singgah bisa berubah menjadi pengabdian.
***
Sekolah itu berdiri di tengah perkebunan, seperti perahu kecil di lautan hijau. Setiap pagi, suara mesin truk mendahului bel. Tanah menempel di sepatu murid. Tangan-tangan mereka lebih akrab dengan duri pelepah daripada lembar buku.
“Untuk apa bermimpi tinggi, Bu?” tanya seorang murid pada suatu pagi yang basah oleh embun. “Kami ini anak kebun.”
Aruna memandang mereka satu per satu—anak-anak yang tumbuh di antara batang-batang tegak yang seragam, namun menyimpan cerita berbeda di bawah tanahnya.
“Karena pohon tidak pernah memilih di mana ia ditanam,” jawabnya perlahan. “Tetapi ia selalu memilih seberapa dalam ia berakar.”
Sejak itu, ia mengajar bukan hanya tata bahasa, melainkan daya tahan. Ia mengubah laporan menjadi kisah, pidato menjadi keberanian, puisi menjadi tempat berlindung.
Di malam hari, ketika hujan menghantam atap seng mess guru, rindu datang seperti gelombang yang tak bisa dibendung. Rindu pada Ibu yang menunggu kabar. Rindu pada Babe yang tak sempat melihatnya berdiri tegak. Rindu pada masa depan yang sempat ia tunda.
Namun setiap kali rindu hampir melumpuhkannya, ia teringat: ada hidup lain yang menunggu disentuh.
***
Raka hampir hanyut.
Nilainya jatuh seperti buah yang dipetik sebelum matang. Ia ingin berhenti, menyerah pada takdir yang diwariskan.
“Mimpi tidak mengenyangkan, Bu,” katanya suatu sore dengan mata yang kehilangan arah.
Aruna mengajaknya berdiri di tepi lapangan, memandang deretan sawit yang tampak sama tinggi.
“Kamu hanya melihat batangnya,” ucapnya lirih. “Padahal kekuatan pohon ada di bawah tanah.”
Sejak hari itu, Raka belajar bertahan.
Ia menulis tentang ayahnya yang pulang dengan bahu letih. Tentang ibunya yang menyimpan cemas dalam diam. Tentang dirinya yang ingin mematahkan garis nasib tanpa mematahkan hormat.
Aruna menyimpan tulisan itu seperti menyimpan benih.
***
Tahun-tahun berlalu tanpa upacara.
Adiknya lulus. Murid-muridnya tumbuh. Rindu tetap tinggal, tetapi tidak lagi menjadi luka terbuka. Ia menjelma doa yang tenang.
Dan hari ini, Raka berdiri membawa kabar yang tak pernah ia bayangkan akan ia dengar dari seorang anak kebun.
“Bu, saya ingin menjadi guru.”
Angin bergerak panjang di antara pelepah, seperti bisikan alam yang mengamini.
Aruna belum sempat menyusun jawaban ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan singkat membuka pintu yang pernah ia tutup rapat:
Beasiswa dinyatakan lolos tahap akhir.
Waktu seolah menangguhkan detiknya.
Mimpi yang ia kubur dalam tanah pengorbanan kini mengetuk kembali dari kedalaman.
Ia menatap langit yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Sawit-sawit itu tetap berdiri—tidak meninggalkan tanahnya, namun terus meninggi tanpa gaduh.
Apakah ia akan tetap menjadi akar—menguatkan dari dalam, tanpa terlihat?
Ataukah kini waktunya menumbuhkan cabang yang lebih jauh, membawa serta seluruh musim yang pernah ia lewati?
***
Bel berbunyi.
Suara itu tidak hanya memanggil murid kembali ke kelas.
Ia juga memanggil Aruna pada keputusan yang belum ia beri nama.
Dan di antara tanah, rindu, serta mimpi yang kembali menyala—
ia berdiri,
belum memilih,
namun tak lagi takut.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar