Sejak kelas X, aku terbiasa datang paling pagi.
Gerbang sekolah bahkan kadang belum sepenuhnya terbuka saat aku sudah duduk di bangku depan kelas. Aku suka suasana pagi: tenang, belum banyak suara, belum banyak alasan.
Tugasku sebagai ketua kelas membuatku harus menyiapkan daftar hadir, memastikan papan tulis bersih, dan mengingatkan teman-teman soal jadwal piket. Kalau ada presentasi, aku selalu memastikan proyektor siap sebelum guru datang.
Aku juga aktif di perpustakaan dan tim publikasi sekolah. Selesai pelajaran, saat teman-teman pulang, aku masih menyusun rak buku atau mengedit dokumentasi kegiatan.
Aku selalu memakai seragam sesuai jadwal. Bahkan pernah pulang lagi ke rumah karena salah pakai atribut.
Entah kenapa, aku merasa harus memberi contoh.
Tapi lama-lama, ada yang mengganjal.
Beberapa teman sering datang terlambat. Ada yang masuk kelas tanpa atribut lengkap. Ada yang tidak pernah mengerjakan piket. Tapi saat upacara, mereka yang paling lantang meneriakkan yel-yel tentang disiplin.
Lucunya lagi, ada yang tidak pernah aktif di organisasi, tapi namanya tetap tercatat sebagai pengurus inti demi memenuhi syarat poin prestasi.
Pernah suatu hari, seorang teman tertidur saat jam pelajaran tambahan. Guru hanya tersenyum dan membiarkannya. Tapi ketika aku sekali saja lupa mengumpulkan laporan tepat waktu karena harus mengurus dua kegiatan sekaligus, namaku disebut di grup kelas.
“Ketua kelas harusnya lebih bertanggung jawab.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Aku ingin membalas. Ingin bertanya kenapa aturan terasa berbeda. Kenapa yang berusaha justru lebih sering ditegur.
Suatu sore, saat membereskan buku piket, aku melihat Raka, teman yang sering terlambat, duduk santai di tangga.
“Ngapain masih di sini?” tanyanya.
“Nyelesain laporan.”
“Capek nggak sih jadi anak baik terus?” ia tertawa kecil.
Aku terdiam.
Capek? Iya.
Kadang muncul rasa tidak ikhlas. Nilai kami tidak jauh berbeda. Uang SPP yang dibayar orang tua kami sama. Tapi usaha yang dikeluarkan rasanya berbeda jauh.
Aku hampir saja berhenti.
Hampir saja berpikir, untuk apa datang paling pagi kalau yang datang terakhir pun tetap diperlakukan sama?
Tapi keesokan paginya, tanpa sadar kakiku tetap melangkah lebih awal ke sekolah.
Bukan karena ingin dipuji.
Bukan karena takut ditegur.
Tapi karena aku sadar satu hal: kalau aku ikut-ikutan longgar hanya karena orang lain longgar, lalu siapa yang tersisa untuk menjaga standar?
Mungkin dunia memang tidak selalu adil.
Mungkin tidak semua usaha langsung terlihat.
Tapi integritas bukan soal siapa yang melihat.
Ia tentang siapa dirimu saat tak ada yang menilai.
Dan hari itu, saat kembali menuliskan daftar hadir di papan, aku memilih tetap menjadi diriku sendiri, meski kadang terasa sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar