Minggu, 15 Februari 2026

Dua Puluh Ribu: UTUH

Di lemari kamarku masih tersimpan map biru berisi piagam-piagam SMP. Juara pidato. Juara olimpiade. Juara cerpen. Namaku sering dipanggil ke depan lapangan saat upacara. Tepuk tangan terdengar nyaring.

“Belajar lagi. Jangan puas.”

Kalimat itu lebih sering kudengar daripada, “Kamu capek?”


Saat masuk SMA dan tinggal di asrama, semuanya berubah. Tidak ada lagi suara yang mengatur jam belajarku. Tidak ada yang memeriksa nilai ulanganku setiap malam. Untuk pertama kalinya, aku merasa longgar. Seperti tali yang selama ini mengikat, tiba-tiba dilepas.


Anehnya, bersama kebebasan itu, semangatku ikut menguap.


Teman-temanku santai. Tidak ada yang ambisius ikut lomba. Pulang sekolah nongkrong, tertawa, membicarakan hal-hal remeh. Aku ikut hanyut. Tidak ada lagi target. Tidak ada lagi piala. Dan, entah kenapa, aku tidak merasa kehilangan.


Mungkin selama ini aku berlari bukan karena ingin menang, tapi karena takut dimarahi.


Ayahku sudah lama menikah lagi. Tentang ibu kandungku, aku bahkan tidak tahu wajahnya. Foto pun tak pernah kulihat. Hidupku sejak kecil diatur ibu tiri. Les ini, lomba itu, target nilai sekian. Aku menurut. Ayah hanya diam, seolah semua baik-baik saja.


Di asrama, aku tidak pernah meminta uang saku. Ibu tiri pun tak pernah mengirim. Katanya aku sudah terlalu banyak menghabiskan uang untuk sekolah dan lomba-lomba dulu. Lagi pula, makan sudah ditanggung sekolah. Itu cukup.


Cukup.


Pernah suatu waktu, uangku tinggal dua puluh ribu. Uang itu pemberian terakhir sebelum aku berangkat ke asrama tiga bulan lalu. Selama tiga bulan, uang itu tak pernah kugunakan. Saat teman-teman jajan di kantin, aroma gorengan dan es teh manis terasa menggoda. Tapi aku menahan diri.


Tidak apa-apa. Aku masih bisa makan tiga kali sehari.

Uang ini harus utuh saat pulang nanti.


Ada kepuasan aneh setiap kali aku membuka dompet dan melihat lembar itu masih rapi. Seolah-olah aku sedang membuktikan sesuatu bahwa aku tidak merepotkan siapa pun.


Hari kepulangan tiba. Aku turun dari mobil dengan tas besar di punggung. Rumah terasa sama seperti dulu, sunyi yang aneh. Di ruang tengah, adikku yang masih kecil berlari menghampiri.


“Kak, aku mau jajan…” rengeknya, menarik ujung bajuku.


Aku terdiam. Tanganku masuk ke saku celana, menyentuh lembar dua puluh ribu yang selama tiga bulan kujaga seperti rahasia. Uang itu hangat oleh lipatan dan waktu.


Tanpa banyak berpikir, kuberikan saja padanya.


Matanya berbinar. Ia berlari keluar rumah sambil tertawa kecil.


Aku berdiri di ambang pintu, memandangi punggungnya yang menjauh. Tiga bulan menahan keinginan, tiga bulan menjaga selembar uang, dan kini habis dalam satu gerakan.


Aneh. Tidak ada penyesalan.


Di dalam dada, justru ada rasa yang lama hilang, hangat dan ringan. Bukan karena bebas. Bukan karena jauh dari aturan. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku melakukan sesuatu bukan karena disuruh, bukan karena target, bukan karena obsesi siapa pun.


Aku melakukannya karena aku mau.


Map biru berisi piagam masih ada di kamarku. Tapi sore itu, di antara langkah kecil adikku yang riang, aku mulai bertanya-tanya:


Selama ini, siapa sebenarnya yang ingin menjadi juara? Mereka… atau aku?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar