Kamis, 12 Februari 2026

Suara yang Pelan-Pelan Menghilang

Renjana, 25 Desember 2006

Langit pagi itu biasa saja. Tidak ada tanda apa-apa. Tidak ada firasat yang bisa diterjemahkan anak sembilan tahun sepertiku.

Biasanya, aku dan adikku—Arga—sudah menyiapkan tas kecil untuk menginap di rumah Nenek. Rumah kayu dengan bau lemari tua dan suara radio yang setia menyala sejak subuh. Rumah yang menyimpan tawa Bapak lebih banyak daripada rumah kami sendiri.

Namun pagi itu, Mamah berkata pelan,

“Ndak usah ke rumah Nenek.”

Tidak ada penjelasan. Hanya mata sembap dan suara yang seperti ditahan agar tidak pecah.


Telepon rumah berdering.

Aku mengangkatnya.

“Halo?”

Yang terdengar hanya sesenggukan. Nafas berat. Lalu sunyi. Sambungan terputus seperti kalimat yang tak sempat selesai.

Aku belum tahu bahwa ada kabar yang terlalu besar untuk disampaikan dengan kata-kata.


Tak lama, sebuah mobil datang menjemput kami. Perjalanan menuju rumah Nenek terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Tante diam. Arga tertidur di pangkuannya. Aku memandangi jalan yang terasa asing, padahal sudah ribuan kali kulewati.

Rumah itu ramai.

Banyak sandal. Banyak suara berbisik. Banyak tatapan yang menghindar.

Lalu aku melihat Mamah.

Tubuhnya goyah. Tangannya dipegangi. Tangisnya seperti merobek udara. Tangis yang tak pernah kudengar sebelumnya. Tangis yang membuatku takut tanpa tahu apa yang harus kutakuti.

Dan kalimat itu jatuh.

“Bapakmu sudah tidak ada.”

Tidak ada gemuruh. Tidak ada petir. Tapi sesuatu di dalam dadaku runtuh tanpa suara.


Aku duduk di samping tubuh yang terbujur diam.

Itu Bapak.

Kugenggam tangannya. Dingin. Bukan dingin seperti pagi. Bukan dingin seperti hujan. Ini dingin yang tak bisa dihangatkan.

Aku menunggu air mata.

Tapi mataku kering.

Seperti ada bendungan yang belum tahu caranya jebol.


Arga berlari kecil menyambut Tante yang baru datang.

“Tante… bapakku sudah ndak ada…”

Ia mengucapkannya polos. Tanpa beban. Tanpa mengerti bahwa kalimat itu akan tinggal bersama kami seumur hidup.


Beberapa bulan kemudian, barulah aku mengerti.

Kehilangan tidak selalu datang sebagai tangis.

Kadang ia datang sebagai sunyi yang panjang.


Aku mulai sering menangis diam-diam. Setiap mendengar kabar duka. Setiap mendengar kata “bapak.” Setiap melihat teman diantar ayahnya ke sekolah.

Tapi aku tidak pernah memperlihatkannya.

Entah sejak kapan aku merasa harus kuat. Harus menjadi anak yang tidak menambah luka. Harus menjadi kakak yang mengisi ruang kosong tanpa pernah diajari caranya.


Kadang aku iri.

Sesederhana melihat seorang teman memanggil, “Pak!” dari balik pagar sekolah. Panggilan itu seperti cahaya kecil yang tak lagi kumiliki.

Ikhlas ternyata bukan pintu yang bisa langsung dibuka. Ia seperti jalan panjang yang harus dilalui tanpa tahu kapan sampai.


Aku berhenti datang ke rumah Nenek.

Rumah itu menyimpan gema hari terakhir Bapak.

Setiap sudutnya seperti memutar ulang adegan yang belum sempat kumengerti.

Nenek marah. Aku diam.


Hingga suatu hari Nenek pergi menyusul. Dan aku kembali melangkah ke rumah itu.

Tidak ada yang berubah. Bau kayu tua masih sama. Cahaya sore masih jatuh di tempat yang sama. Tapi kenangan berdiri lebih dulu menyambutku.

Sejak itu, aku tumbuh bersama sesuatu yang tak terlihat.

Di SMP. Di SMA. Di bangku kuliah.


Suatu hari di parkiran kampus, kulihat seorang mahasiswa diantar ayahnya. Ada tepukan di bahunya sebelum ia melangkah pergi.

Hatiku berbisik pelan,

seandainya…

Lalu aku menegur diri sendiri.

“Sudah takdirmu, Naya.”

Aku mencoba percaya bahwa hidup yang berbeda pasti memiliki maksud. Bahwa kehilangan adalah cara Tuhan membentuk ruang agar kita belajar berdiri.

Namun ada bagian yang tak pernah benar-benar selesai.

Setiap Mamah berkata, “Coba papamu masih ada…,”

ada sesuatu yang kembali retak.


Aku tidak pernah pandai bercerita tentang lukaku.

Tidak pada Mamah.

Tidak pada sahabat.

Aku menyimpannya rapi, seperti buku yang tak ingin kubuka lagi.

Tapi tengah malam selalu jujur.

Insomnia datang membawa potongan-potongan kenangan. Aku berusaha mengingat suara Bapak. Tawanya. Cara ia memanggil namaku.

Semakin kuingat, semakin kabur.

Dan itu yang paling menyakitkan.


Bukan hanya kehilangan tubuhnya.

Tapi perlahan kehilangan suaranya.

Ada marah yang tak tahu harus ditujukan ke mana. Pada waktu. Pada jarak. Pada diriku sendiri yang mulai lupa.

Kini, untuk sekadar memanggil “Pak,” rasanya asing di lidahku. Kata itu seperti milik masa lalu yang jauh.

Kadang aku memandangi Arga.

Ia tumbuh dengan kenangan yang lebih sedikit. Dengan cerita yang lebih samar. Dan tanpa diminta, aku merasa harus menjadi lebih dari sekadar kakak.


Seharusnya kami punya lebih banyak waktu.

Setidaknya aku sempat sembilan tahun.

Ia bahkan belum genap enam.

Sekarang, setiap berdiri di depan cermin, aku sering bertanya dalam hati—

apakah Bapak masih mengenaliku jika melihatku hari ini?

Ataukah aku yang perlahan tak lagi mampu mengenali suaranya sendiri di dalam ingatan?

Dan mungkin, kehilangan bukan tentang siapa yang pergi—

melainkan tentang suara yang pelan-pelan menghilang,

namun tak pernah benar-benar berhenti memanggil kita pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar