Aku pamit. Aku rasa sudah tidak sanggup dengan keadaan yang aku alami saat ini. Sungguh, aku ingin menyerah pada sesuatu hal yang tidak dapat aku sampaikan. Semua yang aku lakukan. Sulit untuk diutarakan ke orang lain. Aku takut. Orang lain akan mengejekku.
Bisa tidak ya, aku bergaul dengan temanku yang lain. Mereka dapat bercanda. Juga bisa mengutarakan sesuatu yang disampaikan kepada orang lain. Tidak seperti diriku. Hanya diam karena takut. Takut untuk mengutarakan pendapat. Mungkin diam lebih baik. Namun, kenyataannya tidak mungkin aku harus diam. Jika aku diam, pasti aku akan banyak menyimpan pendapat. Temanku juga banyak yang tidak mau bermain denganku. Mereka tidak ada yang mengerti keadaanku.
Aku sendiri. Tidak ada yang mau bermain denganku. Di sekolah pun aku selalu diam. Nyaris tak ada yang mau dekat denganku. Ketika jam istirahat, aku hanya duduk di kursi belajar. Bahkan saat aku lapar, aku pergi ke kantin seorang diri. Kalaupun harus bersama dengan teman yang lain, aku malu. Selalu diejek. Mereka merasa aku ini tidak asyik. Apa karena penampilanku dekil ya? Apakah aku kelihatan jelek di pandangan mereka itu?
Malam itu, aku sedang duduk di cafe. Di situ banyak sekali gerombolan-gerombolan. Sedangkan aku? Sendirian.
Saat aku sedang enjoy dengan laptopku, tiba-tiba ada yang mencoba mendekatiku. Aku pikir dia mau bergabung. Kusilakan ia duduk.
Dan “Byurrr”. Minuman yang kupesan disiramkan ke mukaku. Semua mata tertuju padaku. Aku bisa apa? Aku gak mau ada pertikaian di tempat umum. Yasudah, biarkan saja. Kuambil sapu tangan dalam tasku untuk bersih diri.
Segera kumasukkan laptop ke dalam tas. Bergegas ke kasir. Dan bayar pesanan. Aku pulang dengan keadaan baju basah. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi.
Kasur ini terlalu empuk, hingga aku tak bisa tahan kantukku. Kupandangi langit-langit, berkhayal.
Haruskah aku berpenampilan mewah, megah dan mahal? Agar aku dapat bermain dan bisa berkumpul dengan mereka. Kenapa orang lain itu hanya memandang dari segi penampilan? Kenapa bukan dari adab? Andaikan saja mereka tahu dan merasakan yang aku rasakan. Kuyakin mereka takkan sanggup.
Orang sepertiku ini selalu direndahkan. Tidak mampu untuk membeli sesuatu seperti temanku yang lain. Kenapa hanya aku yang tidak dapat seperti mereka? Tak dapat berteman dengan mereka? Kenapa mereka menjauhiku?
Ya memang, orang tua mereka punya perusahaan besar. Terpandang. Sedangkan aku?
Tetapi apapun itu aku akan tetap semangat. Aku harus tegar dalam menghadapi permasalahan. Apakah harta lebih penting untuk sebuah pertemanan? Sesulit itukah berteman? Apakah aku harus membayar pertemanan dengan sebuah harta dan kekayaan? Kalau saja aku bisa punya banyak teman, pasti asik. Saling bantu. Aku ingin punya teman yang bisa mengerti. Bisa paham segala keadaanku. Bukan yang mengejekku. Tapi keadaan berkata lain. Aku tidak punya teman yang kuinginkan. Aku sendirian. Dan tidak bisa berbuat apa-apa. Harapanku hanya punya teman yang mengerti keadanku. Alahhh.... Itu hanya khayalan saja. Dan tidak mungkin terjadi padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar