Aku menetap pada sebidang bumi
yang tak ramai disebut nama.
Di sana surya turun perlahan,
menyapa pucuk-pucuk hijau
yang setia berdiri
menjaga musimnya sendiri.
Banyak lidah menakar jarak,
aku menakar akar.
Sebab yang menghunjam ke dalam
tak gemar memamerkan tinggi.
Sunyi bukan selalu kurang,
jauh bukan selalu tertinggal.
Pada lengang yang tekun,
hidup belajar mencukupkan diri.
Di ruang yang bersahaja,
berjumpa suara-suara muda
dari kisah yang berlainan.
Mereka bukan serupa,
namun menuju arah yang sama:
bertumbuh.
Aku tak memburu puncak,
kupelihara kedalaman.
Dan kelak,
saat musim memanggil matang,
buah jatuh tanpa gegap gempita
sebagaimana keyakinan
yang tak pernah meminta disaksikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar