Kamis, 12 Februari 2026

Pulang tanpa Peta

Hari-hariku berjalan seperti biasa sebagai calon taruna. Bangun pagi, baris, latihan, lalu belajar. Di sela lelah, aku selalu ingat satu tujuan: membanggakan kedua orang tuaku. Itu saja sudah cukup membuat kakiku tetap melangkah.

Malam itu, suasana asrama terasa berbeda. Pembina memanggil namaku dan satu temanku—kami berasal dari daerah yang sama. Tidak ada penjelasan panjang. Kami hanya diminta mengemas barang dan membawa pakaian secukupnya.

Aku tidak curiga apa pun.

Perjalanan dimulai seperti perjalanan biasa. Kami mengobrol, tertawa, saling meledek. Di tengah jalan, kami berhenti di sebuah rumah makan. Makanannya terasa istimewa, mungkin karena sudah lama kami tak mencicipi rasa seperti itu.

“Izin nambah, boleh ya, Pak?” tanyaku polos.

“Di asrama nggak ada makanan seenak ini,” tambah temanku sambil tertawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Dua belas jam di jalan terasa panjang, tapi tidak menegangkan. Hingga akhirnya, pukul dua dini hari, mobil berhenti di sebuah persimpangan dekat rumahku.

Aku turun lebih dulu.

Di depan rumahku berdiri tenda. Banyak orang berkumpul. Lampu-lampu menyala lebih terang dari biasanya. Dadaku terasa aneh, tapi aku tetap melangkah. Aku menyalami satu per satu orang yang kutemui. Mereka membalas dengan tatapan yang tak kupahami.

Saat mendekati pintu, langkahku terhenti.

Ibuku duduk di lantai. Ia memeluk sesuatu yang tertutup kain batik. Tubuhnya bergetar. Lalu teriakannya memecah malam, membangunkan semua yang masih terlelap.

Saat itu juga, dunia seolah berhenti.

Ayahku telah pergi.

Padahal seminggu lalu, beliau masih menitipkan barang dari senior untukku. Katanya, “Biar kamu semangat.” Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar.

Malam itu aku belajar satu hal:

hidup bisa berubah tanpa aba-aba,

dan perjalanan pulang bisa menjadi perjalanan paling sunyi.

Namun di tengah kehilangan, tekadku justru mengeras.

Aku akan tetap berdiri.

Aku akan tetap melangkah.

Karena kini, alasan membanggakan orang tua tinggal satu—

dan itu tak boleh runtuh.

Malam itu tak ada tangis yang benar-benar selesai. Tak ada kalimat yang mampu menjelaskan apa yang kurasakan. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap wajah-wajah yang kukenal sejak kecil, namun terasa asing dalam satu malam.

Pembina menepuk pundakku pelan.

“Kamu istirahat dulu,” katanya singkat.

Aku mengangguk, meski tak tahu harus beristirahat di mana—di rumah yang baru kehilangan, atau di diri sendiri yang mendadak kosong.

Di sudut ruang, tas ranselku masih tergeletak. Pakaian taruna yang kubawa untuk beberapa hari ke depan belum sempat kusentuh. Aku menatapnya lama, seolah di dalam tas itu tersimpan jawaban atas apa yang harus kulakukan setelah ini.

Aku tidak tahu apakah esok aku akan kembali ke asrama.

Aku tidak tahu apakah langkahku masih akan sama.

Yang kutahu hanya satu:

perjalanan ini belum selesai.

Dan mungkin, justru di sinilah ujian sesungguhnya baru akan dimulai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar