“Mak, perutku sakit.”
Bungsuku mengaduh sambil memegang perutnya. Aku pun panik. Sepertinya ini bukan sakit perut biasa. Badannya menggigil. Kulitnya pun pucat.
Segera kuambil gendongan dan lari keluar rumah. Aku tak ambil pusing. Matahari menyengat kulitku. Entahlah ini pukul berapa. Tak kuhiraukan. Aku harus segera membawa anakku ke klinik. Kupercepat langkah kakiku.
“Tenang, Nak. Sebentar lagi kita sampai. Tahan dulu ya!”
“Udah gak kuat, Mak. Perutku sakit sekali.”
“Iya, sabar dulu ya.”
Ternyata jam istirahat. Klinik tampak sepi, kususuri lorong, kucari dokter piketnya.
“Dok, tolong anakku. Tolong periksa kondisinya.”
Kupegangi tangan anakku yang sedari tadi kesakitan. Dokter memeriksanya dan menyuntikkan entah apa itu namanya. Anakku mulai berhenti mengaduh dan tertidur. Kutinggalkan anakku. Dokterpun mengajak bicara di ruangannya.
“Tadi habis makan apa, Buk?”
“Ya makan seperti biasanya, Dok. Kami seharian tadi kebetulan habis dapat rejeki makan daging.”
“Kalau boleh tahu daging apa, Buk?”
“Ya, daging. Tadi saya pas nyuci baju di sungai, saya nemu bungkusan plastik. Saya buka dan isinya daging. Bersyukur sekali. Saya bergegas pulang. Saya masak dan kita makan bersama-sama. Karena memang kami udah lama gak makan daging, Dok. Gimana mau beli daging. Masih bersyukur bisa makan pakai beras. Akhir-akhir ini dagangan suamiku sepi.”
Suamiku hanyalah pedagang asongan. Penghasilannya pun tak menentu. Kadang pulang bawa uang. Tapi hanya cukup untuk beli beras saja. Kadang pula tidak dapat uang sama sekali, sehingga aku tukarkan dagangannya dengan beras di warung.
Aku bingung. Kenapa wajah dokter berbeda ya. Apa ceritaku ada yang salah?
Dokter itu meminta petugas untuk mengambil sampel daging olahanku ke rumah. Karena aku harus menunggu anakku di klinik, kuberitahu saja bahwa masih ada anak sulungku di rumah, kusuruh saja ambil ke sana.
“Kalau boleh tahu, Ibuk nemu daging itu tepatnya dimana?”
“Di bawah jembatan, Dok.”
Wajah dokter tambah kebingungan. Sepertinya sedang menerka-nerka sesuatu yang aku gak tahu.
Tak beberapa lama kemudian, petugas suruhan dokter tadi pun datang. Dokter meminta tim lab untuk periksa. Sambil menunggu hasil lab, kupandangi wajah anakku.
“Tenang saja ya, Nak. Sebentar lagi kamu sembuh. Dan kita akan segera pulang.”
Di ruang lain sedang sibuk memeriksa daging olahanku. Petugas lab berlari menghampiri dokter. Ia pun tampak gelisah.
“Dok, ini tumor.”
Dokter pun kaget.
“Adakah hari ini yang operasi tumor? Minta tolong telusuri dan cari alamatnya.”
“Baik, Dok.”
Klinik mendadak ramai. Ada polisi, TNI, tim medis berkumpul menghampiriku. Dokter memanggilku.
“Buk, anak ibuk makan daging tumor. Yang Ibuk masak tadi itu daging tumor, Buk. Tadi pagi ada pasien yang operasi di klinik kami. Setelah kami klarifikasi pada pihak yang bersangkutan, benar adanya dibuang di bawah jembatan itu.”
Tubuhku lemas mendengar perkataan dokter. Dosanya diriku.
Aku tak punya kuasa lagi. Entah.
Polisi, TNI, tim medis memeriksa tempat aku dapatkan daging tadi pagi. Ramainya orang di sekitaran jembatan. Mereka bertanya-tanya kejadian apa yang sedang terjadi. Sampai dokter pun turun langsung ke sungai tempat aku mencuci baju tadi pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar