Rabu, 18 Februari 2026

Tanggal yang Sama

 Sejak kelas X, aku selalu jadi orang pertama yang ribut kalau ada yang ulang tahun.


Aku hafal tanggal lahir hampir semua teman sekelas. Bahkan tanggal lahir wali kelas pun kusimpan di kalender ponselku. Kalau ada yang ulang tahun, aku yang menginisiasi patungan. Kalau tak sempat beli kue, minimal aku bawakan cokelat kecil dengan tulisan tangan: “Terima kasih sudah hadir di dunia.”


Aku juga sering mentraktir teman yang aktif saat diskusi kelompok. “Biar semangatnya nular,” kataku setiap kali mereka menolak.


Aku senang membuat orang lain merasa dirayakan.


Lalu tibalah hariku.


Sejak bangun pagi, aku sadar tanggal di layar ponselku berbeda. Ada rasa hangat kecil di dada. Bukan karena berharap pesta. Hanya… penasaran.


Di sekolah, semuanya berjalan biasa.


Aku tetap menjawab pertanyaan guru. Tetap tertawa saat Dika salah menyebut istilah. Tetap membantu Rani menyusun slide presentasinya.


Tidak ada yang berubah.


Jam istirahat, aku duduk di bangku dekat lapangan. Biasanya, kalau ada yang ulang tahun, aku akan datang sambil pura-pura lupa, lalu tiba-tiba menyanyikan lagu dengan suara paling sumbang.


Hari itu, tidak ada yang datang.


Aku membuka ponsel. Tidak ada notifikasi khusus. Grup kelas membahas tugas. Grup organisasi membahas lomba. Tidak ada satu pun pesan pribadi.


Aku mencoba berpikir positif. Mungkin mereka menyiapkan kejutan.


Sampai bel pulang berbunyi.


Aku berjalan keluar kelas dengan langkah pelan. Melewati papan mading yang biasa kupakai untuk menempel ucapan ulang tahun teman-teman. Minggu lalu masih ada kertas bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Sinta!” kertas yang kubuat sendiri.


Sekarang papan itu kosong.


Di rumah, suasana tak jauh berbeda. Ibu sibuk dengan pekerjaannya. Ayah belum pulang. Adikku mengunci diri di kamar.


Aku masuk ke kamarku. Duduk di tepi ranjang. Menatap langit-langit.


Lucu ya, pikirku. Aku begitu mudah mengingat orang lain. Tapi rupanya aku tidak cukup penting untuk diingat.


Atau mungkin… aku yang terlalu sering terlihat kuat dan tidak butuh dirayakan.


Malam semakin larut.


Ponselku tetap sunyi.


Aku membuka galeri. Ada foto-foto teman yang tertawa saat kue mereka kupegangi. Ada video saat mereka meniup lilin. Ada wajah-wajah yang kuabadikan saat mereka merasa istimewa.


Tanganku berhenti di satu foto: diriku sendiri, memegang kue untuk orang lain, tersenyum lebar.


Aku menatap foto itu lama.


Jam di dinding menunjukkan pukul 23.57.


Tiga menit lagi tanggal ini berakhir.


Aku menarik napas panjang. Mungkin memang tidak semua kebaikan harus kembali dalam bentuk yang sama.


Atau mungkin… belum kembali.


Detik berganti.


Pukul 00.00.


Ponselku tiba-tiba bergetar.


Satu pesan masuk.


Aku menatap layar yang menyala di kegelapan kamar.


Nama pengirimnya membuat jantungku berdegup lebih cepat.


Aku belum membukanya.


Karena entah kenapa, di antara kecewa dan harap, aku takut:

kalau ternyata bukan seperti yang kubayangkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar