Tidak ada anak yang bercita-cita lahir dari dua orang tua yang berpisah.
Aku pun tidak.
Sejak kecil, aku ikut Ibu. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang juragan kaya di kota kecil kami. Aku tumbuh di antara suara pel lantai, denting piring, dan perintah-perintah halus yang selalu diucapkan dengan sopan. Ibu bekerja dari pagi sampai malam. Aku belajar mengerti tanpa banyak bertanya.
Sekarang usiaku sudah SMA.
Beberapa waktu lalu, sekolah mengadakan acara penting, penyerahan penghargaan sekaligus pentas seni. Teman-temanku datang bersama ayah dan ibu mereka. Ada yang dirangkul dari belakang, ada yang dipeluk setelah turun panggung, ada yang disuapi kue kecil dengan tawa bahagia.
Aku berdiri di samping Ibu.
Ibu tersenyum bangga. Tangannya menggenggam jemariku erat-erat. Tapi entah kenapa, di tengah riuh tepuk tangan, ada ruang kosong dalam dadaku.
Aku ingin sekali merasakan dipeluk Ayah.
Bahkan sampai usia seperti ini, Ibu tak pernah benar-benar menceritakan siapa Ayah kandungku. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama, “Ayahmu tinggal di daerah itu.” Tangannya menunjuk samar ke arah utara kampung.
Tanpa alamat. Tanpa nama yang jelas. Tanpa cerita.
Musim liburan tiba. Aku meminta izin pulang ke rumah Nenek di kampung lama. Ibu mengangguk pelan. “Jangan cari yang tidak perlu,” pesannya sebelum aku berangkat.
Kalimat itu justru membuatku semakin ingin tahu.
Di rumah kayu bercat hijau milik Nenek, angin sore terasa lebih jujur. Nenek menyambutku dengan pelukan hangat dan aroma minyak kayu putih yang khas.
Suatu malam, saat lampu ruang tengah redup, aku memberanikan diri bertanya.
“Nek… rumah Ayah sebenarnya di mana?”
Nenek terdiam cukup lama. Wajahnya yang keriput terlihat ragu.
“Sebenarnya… tidak jauh dari sini,” katanya pelan.
Jantungku berdegup lebih cepat. “Tidak jauh? Berarti bisa aku datangi?”
Nenek menggeleng. “Sudahlah. Tidak semua yang dekat harus kau dekati.”
Jawaban itu seperti pintu yang dibuka sedikit, lalu ditutup kembali.
Besoknya, aku mencoba cara lain. Aku menemui Pak RT. Barangkali beliau tahu sesuatu.
“Pak… saya mau tanya tentang Ayah saya.”
Pak RT memandangku lama. Tatapannya bukan bingung, lebih seperti menimbang sesuatu.
“Bapak tidak tahu, Nak,” jawabnya singkat. Lalu, dengan suara lebih pelan, ia menambahkan, “Dan mungkin tidak perlu tahu.”
Tidak tahu. Atau tidak mau memberi tahu?
Sepanjang jalan pulang, pikiranku penuh tanda tanya. Kalau rumahnya tidak jauh, kenapa semua orang seperti bersepakat menyembunyikannya dariku? Ada apa sebenarnya dengan Ayahku?
Apakah ia tidak ingin ditemui?
Ataukah ada cerita yang terlalu pahit untuk diulang?
Malam terakhir sebelum kembali ke kota, aku berdiri di teras rumah Nenek. Di kejauhan, lampu-lampu rumah penduduk berkelip kecil. Bisa jadi, salah satu cahaya itu berasal dari rumah Ayah.
Rumah yang katanya tidak jauh.
Rumah yang semua orang tahu, tapi tak seorang pun mau menunjuknya.
Aku memeluk lututku sendiri, mencoba membayangkan wajah yang tak pernah kulihat. Apakah matanya sama denganku? Apakah ia pernah memikirkan anak yang tumbuh tanpa tahu namanya?
Angin malam berembus pelan, membawa suara anjing menggonggong dari arah utara.
Aku menatap ke sana lama sekali.
Kalau memang tidak jauh, mengapa terasa begitu mustahil untuk sampai?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar