Aku siswa kelas XI yang terlalu sering berkata “iya”.
Sejak kelas X, aku dipercaya menjadi ketua klub literasi. Aku juga membantu guru mengelola perpustakaan sekolah, mendata buku, membuat laporan peminjaman, sampai menyiapkan proposal lomba. Selain itu, aku masih harus mengurus divisi publikasi OSIS karena tidak ada yang benar-benar mau mengerjakannya.
Capek? Iya.
Menyesal? Tidak juga. Aku merasa dipercaya.
Masalahnya, semua itu tidak tercatat sebagai poin resmi organisasi yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa prestasi tahun depan. Katanya, kegiatanku tidak “linier” dengan jalur yang kuambil. Sertifikatku hanya tercatat sebagai anggota klub sastra.
Suatu siang setelah rapat, pembina OSIS memanggilku.
“Kita mau bantu Dimas,” katanya pelan. “Dia kurang poin organisasi untuk daftar beasiswa. Jadi untuk struktur resmi pengurus perpustakaan, namanya yang akan dicatat sebagai ketua.”
Aku mengangguk. “Berarti saya berhenti, Bu?”
“Oh tidak,” jawabnya cepat. “Kamu tetap jalankan seperti biasa. Kamu kan sudah paham alurnya. Hanya namanya saja yang masuk di sistem. Dimas butuh segera.”
Aku terdiam.
“Anggap saja membantu teman,” tambahnya.
Aku mencoba tersenyum, tapi hatiku seperti ditarik pelan-pelan.
Malamnya aku membuka file laporan perpustakaan di laptop. Semua data ada di sana: rekap peminjaman, proposal pengadaan buku, hingga rancangan program literasi kelas X yang ingin kubagi jadi tiga kelompok agar lebih efektif. Bahkan aku sudah menghitung kalau proyek itu berjalan, Dimas bisa dapat tambahan poin tanpa harus mengambil namaku.
Ada juga opsi lain. Divisi laboratorium biologi yang selama ini tidak aktif bisa dihidupkan kembali dan dikelola Dimas. Tapi mungkin itu terlalu merepotkan.
Besoknya aku melihat papan struktur organisasi sudah diperbarui. Namaku hilang. Nama Dimas terpampang jelas sebagai Ketua Perpustakaan.
Aku mengecek data kegiatan yang beredar untuk pengajuan beasiswa. Tercatat: Dimas aktif 11 jam per minggu di perpustakaan. Padahal aku tahu persis ia hanya datang sesekali.
Sepulang sekolah, aku menemui pembina.
“Bu, kalau memang mau dialihkan, saya tidak masalah. Tapi sekalian saja tugasnya. Biar Dimas yang jalankan. Saya fokus di klub literasi dan publikasi.”
Beliau terlihat ragu. “Tapi nanti perpustakaan tidak jalan.”
“Saya tidak keberatan kehilangan jabatan,” kataku pelan. “Walaupun mungkin nanti saya lebih lama dapat beasiswa dibanding Dimas. Tapi rasanya tidak adil kalau nama dan kerja tidak sejalan.”
Ruangan itu hening.
Aku tahu, jika aku mengalah, Dimas mungkin lebih dulu lolos seleksi. Sedangkan aku harus menunggu tahun berikutnya. Aku tahu risikonya.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam diriku yang menolak dicatat sebagai bayangan.
Sore itu aku berdiri di depan lemari perpustakaan, memegang kunci seperti biasa. Dimas belum datang. Buku-buku masih berantakan.
Kalau kubuka pintunya, berarti aku menerima semuanya.
Kalau kututup dan menyerahkan kuncinya, mungkin akan ada yang kecewa.
Aku menatap pantulan wajahku di kaca lemari.
Apakah aku egois karena ingin namaku sejalan dengan pekerjaanku?
Atau justru untuk pertama kalinya, aku sedang belajar berdiri untuk diriku sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar