Kamis, 19 Februari 2026

Tawamu Menggema di Dadaku

Namaku Aruna. Kelas X di salah satu SMA favorit di kotaku. Sekolah yang katanya melahirkan calon-calon hebat: dokter, insinyur, bahkan pejabat. Di sini, mimpi sering diukur dari jurusan kuliah dan nama kampus.


Hari itu aku berdiri di depan meja wali kelas. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena tidak terbiasa meminta izin.


“Bu, saya izin tiga hari. Mau mendampingi kakak pengukuhan di IPDN.”


Bu Ratri tersenyum tipis. “Wah, selamat ya. Semoga lancar.”


Aku mengangguk lega. Rasanya bangga menyebut nama itu: IPDN. Bukan karena gagahnya seragam, tapi karena aku tahu betul bagaimana kakakku belajar sampai larut, latihan fisik sampai lututnya memar, menahan rindu rumah demi satu cita-cita: mengabdi.


Aku kembali ke bangku. Belum sempat duduk, suara tawa menyambar dari belakang.


“Ngapain kakaknya di IPDN?”

“Tukang sapu kali!”


Gelak tawa meledak. Beberapa teman dari kelas lain ikut menoleh. Ada yang menutup mulut pura-pura kaget, ada yang terang-terangan menyeringai.


Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Bukan keras, tapi dalam. Sakitnya menjalar pelan.


Teman sebangkuku, Nisa, langsung berdiri. “Eh, jaga omongan dong! Nggak usah ngehina orang!”


“Bercanda doang kali,” sahut salah satu dari mereka.


Bercanda.


Kata yang sering dipakai untuk menyamarkan luka yang sengaja dilemparkan.


Aku menunduk. Tanganku mengepal di bawah meja. Ingin rasanya membalas. Ingin berkata bahwa kakakku bukan sekadar seragam yang mereka tertawakan. Bahwa menjadi praja bukan perkara gagah, tapi soal tanggung jawab. Soal kesiapan ditempatkan di daerah terpencil, di desa yang bahkan mungkin tak pernah mereka dengar namanya.


Tapi aku diam.


Sepanjang pelajaran, suaraku hilang. Biasanya aku aktif bertanya, hari itu aku hanya menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat.


Sepulang sekolah, aku berjalan sendirian ke gerbang. Di layar ponselku ada pesan dari kakakku.


“Dek, doakan ya. Besok gladi terakhir. Kakak deg-degan.”


Aku menatap pesan itu lama. Jempolku ingin membalas dengan cerita tadi. Ingin bilang bahwa ada yang meremehkannya. Bahwa ada yang menertawakan jalan hidupnya.


Tapi aku urungkan.


Untuk apa?


Untuk membuatnya sedih di tengah perjuangannya? Untuk menambah beban yang tidak perlu?


Aku hanya membalas:

“Semangat, Kak. Aku bangga.”


Malamnya, aku memandangi lemari kecil di kamarku. Di dalamnya tersimpan foto kakakku saat pertama kali berangkat pendidikan. Wajahnya lebih kurus, tapi matanya menyala.


Orang boleh menilai dari luar. Dari stereotype. Dari cerita-cerita yang mereka dengar tanpa pernah benar-benar tahu.


Tapi aku tahu siapa kakakku.


Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa dan memahami arti pengabdian, mereka akan menyesali kalimat yang pernah mereka lemparkan begitu saja.


Tiga hari ke depan, aku akan berdiri di antara barisan keluarga lain, melihat kakakku dikukuhkan. Tepuk tangan akan bergema. Seragam itu akan tampak tegak dan rapi.


Aku tak tahu apakah suara tawa hari ini akan masih terngiang di kepalaku saat itu.


Yang aku tahu, ada hal-hal yang tak perlu dibalas dengan kata-kata.


Cukup dengan tetap berjalan.


Dan aku memilih untuk berjalan bersama kebanggaanku, meski pernah mereka jadikan bahan tertawaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar