Jam istirahat pertama selalu jadi waktu paling ramai di kelasku. Meja-meja digeser, bekal dibuka, dan obrolan mengalir lebih deras dari bel masuk.
Hari itu aku duduk bersama Raka dan Dimas di bangku dekat jendela. Raka membuka kotak makannya dengan percaya diri.
“Ayamnya banyak banget, Ka,” kataku spontan.
Raka tersenyum miring. “Ah, segini mah biasa. Di rumahku, ayam setengah kilo itu sekali makan habis. Apalagi kalau buat aku. Bisa ludes di depan mata.”
Dimas ikut tertawa. “Wih, sultan.”
Aku ikut tersenyum, tapi tanganku refleks menutup kotak bekalku sedikit. Isinya cuma nasi, tempe goreng, dan telur ceplok setengah matang. Ayam? Kadang ada, kadang tidak. Tergantung kondisi.
“Serius, Ka?” tanyaku, berusaha terdengar santai.
“Iya lah. Nyokap kalau masak banyak. Kalau cuma setengah kilo mah nggak kerasa.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi entah kenapa, seperti ada yang menekan dadaku. Setengah kilo. Habis di depan mata.
Aku jadi ingat seminggu lalu saat aku dan ibu belanja di warung Bu Sari sepulang sekolah. Ibu berdiri lama di depan etalase ayam potong. Tangannya memegang plastik, lalu meletakkannya lagi.
“Ambil berapa, Bu?” tanya Bu Sari.
“Seperempat aja dulu,” jawab ibu pelan. “Dicatat ya, Bu. Minggu depan saya bayar.”
Aku pura-pura sibuk memilih cabai, seolah tidak mendengar nada lirih itu.
Dan sekarang, di hadapanku, setengah kilo terdengar seperti ukuran harga diri.
Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba Tio dari bangku belakang ikut nimbrung.
“Ah, paling juga cuma gaya,” celetuknya. “Kemarin gue lihat nyokap lo beli di warung Bu Sari. Cuma tahu sama tempe.”
Suasana mendadak hening.
Wajah Raka berubah. “Sok tahu lo!”
“Bener kok. Gue lagi di situ.”
Beberapa teman mulai berbisik. Ada yang tertawa kecil. Ada yang saling melirik. Aku bisa melihat rahang Raka mengeras.
“Apa urusannya sama lo?” bentaknya.
Aku menelan ludah. Ini bukan lagi soal ayam. Ini soal harga diri yang terasa disinggung.
“Udah lah,” kataku pelan, mencoba menenangkan. “Makan aja. Nanti keburu bel masuk.”
Tapi Raka sudah keburu berdiri. “Nggak usah ikut campur.”
Aku menatap kotak makan di depanku. Tempe goreng itu tiba-tiba terasa berat. Rasanya ingin berkata sesuatu, tapi takut salah.
Akhirnya aku memberanikan diri.
“Ka,” panggilku pelan. “Menurutku bukan soal setengah kilo atau seperempat kilo. Yang penting kita masih bisa makan. Masih bisa sekolah. Itu udah cukup.”
Raka menoleh. Matanya masih panas, tapi tidak lagi setajam tadi.
Aku melanjutkan, lebih pelan, “Kadang kita capek kelihatan paling mampu. Padahal yang bikin kita kuat itu bukan banyaknya lauk… tapi rasa syukur.”
Kelas kembali sunyi. Tio menunduk. Dimas berhenti tertawa. Raka perlahan duduk kembali.
Ia membuka kotak makannya tanpa bicara. Ayam gorengnya memang terlihat banyak. Tapi kali ini tidak ada lagi yang membandingkan.
Bel masuk berbunyi.
Saat semua kembali ke tempat duduk masing-masing, aku sadar sesuatu: bukan ayam yang bisa habis di depan mata.
Tapi persahabatan… bisa saja ludes hanya karena kita ingin terlihat lebih dari yang lain.
Dan hari itu, aku belajar: lebih baik menjaga hati daripada menjaga gengsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar