Malam itu seharusnya menjadi malam yang biasa saja.
Baru saja aku mencoba memejamkan mata ketika pintu kamarku diketuk pelan oleh nenek. Aku menghela napas. Tubuh rasanya remuk setelah menghadiri acara tetangga belakang rumah yang punya gawe. Kami baru sampai rumah sekitar pukul dua belas malam. Sunyi sudah menggantung, menyisakan lelah dan sisa suara musik hajatan yang seperti masih berdengung di telinga.
Belum benar-benar terlelap, terdengar suara anak-anak berlarian di samping gang rumah kami. Riuh. Berisik. Tidak wajar untuk jam segitu.
“Mah, coba lihat itu siapa. Berisik sekali. Minta tolong dibantu dulu,” suara Babe terdengar dari kamar.
Masih ada kakakku di ruang tengah. Akhirnya mamah dan kakakku keluar rumah. Aku mengintip dari balik jendela.
Dan detik berikutnya, semuanya berubah.
Di bawah lampu gang yang temaram, terlihat segerombolan anak mengeroyok seorang anak laki-laki. Tubuhnya didorong, dipukul, lalu dimasukkan ke dalam selokan sempit yang hanya cukup untuk satu badan. Tubuh kecil itu meringkuk, tak berdaya.
“Bubarrr!” teriak mamah lantang.
Anak-anak itu kocar-kacir. Kakakku segera mengangkat anak yang babak belur itu. Bajunya kotor, wajahnya lebam. Mamah tak tega melihatnya. Mereka membersihkan tubuhnya di tempat wudlu. Air mengalir, bercampur lumpur dan isak tertahan.
“Rumahmu di mana, Nak?” tanya mamah lembut.
Rupanya ia satu daerah dengan tanah kelahiran Babe. Seperti ada garis takdir yang diam-diam menghubungkan malam itu.
Mamah meminta kakakku mengantarkannya pulang. Pintu rumah kembali tertutup. Hening lagi. Jam menunjukkan lewat tengah malam.
Mamah baru saja merebahkan badan. Mungkin lima belas menit saja. Tiba-tiba Babe memanggil pelan, minta diambilkan minum. Aku mendengar suara gelas beradu sendok.
Suapan terakhir itu… sulit ditelan.
“Ke kamar Babe, cepat…” suara nenekku terdengar tegang.
Aku berlari. Kakakku sudah di sana. Babe memang sudah hampir seminggu bedrest setelah rawat inap. Tubuhnya lemah. Untuk sekadar berdiri pun tak mampu. Hanya bisa terbaring.
“Ayo baca Yasin,” kata kakakku lirih.
Aku dan adikku duduk di dekat kaki ranjang. Mamah dan kakakku di sisi kanan kiri Babe. Suara kami bergetar membaca ayat demi ayat. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Di antara lantunan itu, hatiku tak henti bertanya, ada apa ini? Kenapa suasananya terasa berbeda? Kenapa udara seperti menahan napas?
Selesai bacaan ketiga, ruangan hening.
Kakakku menatap wajah Babe, lalu berkata pelan, “Babe sudah meninggal.”
Kalimat itu menggantung di udara. Tak ada yang langsung menangis. Seolah otak kami menolak percaya.
Aku menatap wajahnya. Damai. Tenang. Dan sebelum benar-benar terpejam selamanya, aku bersumpah melihat senyum tipis di bibirnya.
Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
Di luar sana, gang kembali ramai. Tetangga saudara berdatangan. Berbondong-bondong membereskan rumah. Mengeluarkan meja kursi. Bangun tenda duka di teras rumah kami.
Malam itu, kami menolong seorang anak yang dikeroyok.
Dan tanpa kami sadari, malam itu juga, kami sedang mengantar Babe pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar