Hari itu pelajaran olahraga terasa lebih melelahkan dari biasanya. Matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepala kami. Setelah lari keliling lapangan dan latihan passing, aku kembali ke kelas dengan napas masih terengah.
Seperti biasa, hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa ponsel di dalam tas. Bukan untuk bermain. Hanya kebiasaan kecil, memastikan ia ada di tempatnya.
Tanganku meraba bagian dalam tas.
Kosong.
Aku berhenti. Mungkin terselip di saku depan. Kubuka resleting kecil. Tidak ada. Buku-buku kuangkat satu per satu. Tempat pensil kubalik. Tetap tidak ada.
Dadaku mulai berdebar. Aku berjongkok, memeriksa laci meja. Hanya ada kertas ulangan dan botol minum.
Hapeku hilang.
Aku berdiri dengan tangan dingin. Beberapa teman masih bercanda, belum menyadari wajahku yang pucat. Aku mencoba mengingat tadi pagi aku membawanya. Aku yakin. Bahkan sempat mengecek pesan sebelum pelajaran dimulai.
Segera aku melapor pada wali kelas.
Beliau mendengarkan dengan wajah datar, lalu berkata, “Lain kali hati-hati kalau bawa hape ya.”
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada ajakan mengecek kelas. Tidak ada sidak tas. Tidak ada pengumuman.
Seolah yang hilang hanya penghapus, bukan sesuatu yang kubeli dari hasil menabung berbulan-bulan.
Aku kembali ke bangku dengan perasaan kosong. Lebih kosong dari tasku.
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada kakakku. Ia terdiam sebentar, lalu mengusap kepalaku.
“Ya sudah, lain kali hati-hati. Besok kubelikan lagi.”
Aku ingin marah. Ingin berkata bahwa ini bukan hanya soal benda. Tapi kata-kata itu tertahan. Esoknya, kakakku benar-benar membelikanku ponsel yang sama persis. Warna yang sama. Model yang sama.
Aku berterima kasih. Tapi ada yang tetap mengganjal.
Keesokan paginya, seorang teman sekelasku menghampiri dengan senyum tipis.
“Aku punya hape sama kayak hapemu lho.”
Aku tersenyum kaku. “Oh ya?”
“Iya. Persis banget.”
Aku mengangguk. Tidak mau berburuk sangka. Tidak mau terlihat mencurigai. Tapi kenapa tiba-tiba ia perlu memberitahuku?
Sejak kapan ia memakai tipe itu?
Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai berisik di kepalaku.
Besoknya lagi, aku memberanikan diri kembali ke wali kelas.
“Bu, saya izin pinjam hape teman saya yang sama persis dengan yang hilang kemarin. Saya mau bawa box-nya. Di situ ada nomor IMEI. Saya cuma ingin memastikan.”
Beliau menatapku lama.
“Kamu jangan menuduh begitu.”
“Saya tidak menuduh, Bu. Saya cuma penasaran. Mau memastikan saja.”
Nada suaraku pelan, tapi tegas.
Namun pembicaraan itu berhenti di sana. Tidak ada izin. Tidak ada mediasi. Tidak ada ruang untuk memastikan.
Berita kehilangan hapeku perlahan lenyap begitu saja di sekolah. Tidak ada pengumuman susulan. Tidak ada tindak lanjut. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Aku duduk di bangku kelasku, memandangi teman-teman yang bercanda seperti biasa. Di tanganku, ponsel baru pemberian kakak terasa asing. Sama bentuknya, sama cahayanya, tapi tidak sama rasanya.
Aku akhirnya mengerti sesuatu.
Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan barang.
Tapi kehilangan kesempatan untuk mencari kebenaran.
Dan lebih dari itu, kehilangan rasa aman di tempat yang seharusnya menjagamu.
Sejak hari itu, aku belajar satu hal:
kehilangan bisa diganti dengan benda baru.
Tapi rasa percaya sekali hilang tidak selalu punya nomor untuk dipanggil kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar