Kamis, 12 Februari 2026

Alaaaah

 Aku pamit. Aku rasa sudah tidak sanggup dengan keadaan yang aku alami saat ini. Sungguh, aku ingin menyerah pada sesuatu hal yang tidak dapat aku sampaikan. Semua yang aku lakukan. Sulit untuk diutarakan ke orang lain. Aku takut. Orang lain akan mengejekku. 

Bisa tidak ya, aku bergaul dengan temanku yang lain. Mereka dapat bercanda. Juga bisa mengutarakan sesuatu yang disampaikan kepada orang lain. Tidak seperti diriku. Hanya diam karena takut. Takut untuk mengutarakan pendapat. Mungkin diam lebih baik. Namun, kenyataannya tidak mungkin aku harus diam. Jika aku diam, pasti aku akan banyak menyimpan pendapat. Temanku juga banyak yang tidak mau bermain denganku. Mereka tidak ada yang mengerti keadaanku. 

Aku sendiri. Tidak ada yang mau bermain denganku. Di sekolah pun aku selalu diam. Nyaris tak ada yang mau dekat denganku. Ketika jam istirahat, aku hanya duduk di kursi belajar. Bahkan saat aku lapar, aku pergi ke kantin seorang diri. Kalaupun harus bersama dengan teman yang lain,  aku malu. Selalu diejek. Mereka merasa aku ini tidak asyik. Apa karena penampilanku dekil ya? Apakah aku kelihatan jelek di pandangan mereka itu? 

Malam itu, aku sedang duduk di cafe. Di situ banyak sekali gerombolan-gerombolan. Sedangkan aku? Sendirian. 

Saat aku sedang enjoy dengan laptopku, tiba-tiba ada yang mencoba mendekatiku. Aku pikir dia mau bergabung. Kusilakan ia duduk. 

Dan “Byurrr”. Minuman yang kupesan disiramkan ke mukaku. Semua mata tertuju padaku. Aku bisa apa? Aku gak mau ada pertikaian di tempat umum. Yasudah, biarkan saja. Kuambil sapu tangan dalam tasku untuk bersih diri.

Segera kumasukkan laptop ke dalam tas. Bergegas ke kasir. Dan bayar pesanan. Aku pulang dengan keadaan baju basah. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi.

Kasur ini terlalu empuk, hingga aku tak bisa tahan kantukku. Kupandangi langit-langit, berkhayal.

Haruskah aku berpenampilan mewah, megah dan mahal? Agar aku dapat bermain dan bisa berkumpul dengan mereka. Kenapa orang lain itu hanya memandang dari segi penampilan? Kenapa bukan dari adab? Andaikan saja mereka tahu dan merasakan yang aku rasakan. Kuyakin mereka takkan sanggup. 

Orang sepertiku ini selalu direndahkan. Tidak mampu untuk membeli sesuatu seperti temanku yang lain. Kenapa hanya aku yang tidak dapat seperti mereka? Tak dapat berteman  dengan mereka? Kenapa mereka menjauhiku? 

Ya memang, orang tua mereka punya perusahaan besar. Terpandang. Sedangkan aku?

Tetapi apapun itu aku akan tetap semangat. Aku harus tegar dalam menghadapi permasalahan. Apakah harta lebih penting untuk sebuah pertemanan? Sesulit itukah berteman? Apakah aku harus membayar pertemanan dengan sebuah harta dan kekayaan? Kalau saja aku bisa punya banyak teman, pasti asik. Saling bantu. Aku ingin punya teman yang bisa mengerti. Bisa paham segala keadaanku. Bukan yang mengejekku. Tapi keadaan berkata lain. Aku tidak punya teman yang kuinginkan. Aku sendirian. Dan tidak bisa berbuat apa-apa. Harapanku hanya punya teman yang mengerti keadanku. Alahhh.... Itu hanya khayalan saja. Dan tidak mungkin terjadi padaku.

Nikmatku: Petaka Anakku

“Mak, perutku sakit.”

Bungsuku mengaduh sambil memegang perutnya. Aku pun panik. Sepertinya ini bukan sakit perut biasa. Badannya menggigil. Kulitnya pun pucat.

Segera kuambil gendongan dan lari keluar rumah. Aku tak ambil pusing. Matahari menyengat kulitku. Entahlah ini pukul berapa. Tak kuhiraukan. Aku harus segera membawa anakku ke klinik. Kupercepat langkah kakiku.

“Tenang, Nak. Sebentar lagi kita sampai. Tahan dulu ya!”

“Udah gak kuat, Mak. Perutku sakit sekali.”

“Iya, sabar dulu ya.”

Ternyata jam istirahat. Klinik tampak sepi, kususuri lorong, kucari dokter piketnya.

“Dok, tolong anakku. Tolong periksa kondisinya.”

Kupegangi tangan anakku yang sedari tadi kesakitan. Dokter memeriksanya dan menyuntikkan entah apa itu namanya. Anakku mulai berhenti mengaduh dan tertidur. Kutinggalkan anakku. Dokterpun mengajak bicara di ruangannya. 

“Tadi habis makan apa, Buk?”

“Ya makan seperti biasanya, Dok. Kami seharian tadi kebetulan habis dapat rejeki makan daging.”

“Kalau boleh tahu daging apa, Buk?”

“Ya, daging. Tadi saya pas nyuci baju di sungai, saya nemu bungkusan plastik. Saya buka dan isinya daging. Bersyukur sekali. Saya bergegas pulang. Saya masak dan kita makan bersama-sama. Karena memang kami udah lama gak makan daging, Dok. Gimana mau beli daging. Masih bersyukur bisa makan pakai beras. Akhir-akhir ini dagangan suamiku sepi.”

Suamiku hanyalah pedagang asongan. Penghasilannya pun tak menentu. Kadang pulang bawa uang. Tapi hanya cukup untuk beli beras saja. Kadang pula tidak dapat uang sama sekali, sehingga aku tukarkan dagangannya dengan beras di warung. 

Aku bingung. Kenapa wajah dokter berbeda ya. Apa ceritaku ada yang salah? 

Dokter itu meminta petugas untuk mengambil sampel daging olahanku ke rumah. Karena aku harus menunggu anakku di klinik, kuberitahu saja bahwa masih ada anak sulungku di rumah, kusuruh saja ambil ke sana.

“Kalau boleh tahu, Ibuk nemu daging itu tepatnya dimana?”

“Di bawah jembatan, Dok.”

Wajah dokter tambah kebingungan. Sepertinya sedang menerka-nerka sesuatu yang aku gak tahu.

Tak beberapa lama kemudian, petugas suruhan dokter tadi pun datang. Dokter meminta tim lab untuk periksa. Sambil menunggu hasil lab, kupandangi wajah anakku.

“Tenang saja ya, Nak. Sebentar lagi kamu sembuh. Dan kita akan segera pulang.”

Di ruang lain sedang sibuk memeriksa daging olahanku. Petugas lab berlari menghampiri dokter. Ia pun tampak gelisah.

“Dok, ini tumor.”

Dokter pun kaget. 

“Adakah hari ini yang operasi tumor? Minta tolong telusuri dan cari alamatnya.”

“Baik, Dok.”

Klinik mendadak ramai. Ada polisi, TNI, tim medis berkumpul menghampiriku. Dokter memanggilku.

“Buk, anak ibuk makan daging tumor. Yang Ibuk masak tadi itu daging tumor, Buk. Tadi pagi ada pasien yang operasi di klinik kami. Setelah kami klarifikasi pada pihak yang bersangkutan, benar adanya dibuang di bawah jembatan itu.”

Tubuhku lemas mendengar perkataan dokter. Dosanya diriku.

Aku tak punya kuasa lagi. Entah.

Polisi, TNI, tim medis memeriksa tempat aku dapatkan daging tadi pagi. Ramainya orang di sekitaran jembatan. Mereka bertanya-tanya kejadian apa yang sedang terjadi. Sampai dokter pun turun langsung ke sungai tempat aku mencuci baju tadi pagi. 

Suara yang Pelan-Pelan Menghilang

Renjana, 25 Desember 2006

Langit pagi itu biasa saja. Tidak ada tanda apa-apa. Tidak ada firasat yang bisa diterjemahkan anak sembilan tahun sepertiku.

Biasanya, aku dan adikku—Arga—sudah menyiapkan tas kecil untuk menginap di rumah Nenek. Rumah kayu dengan bau lemari tua dan suara radio yang setia menyala sejak subuh. Rumah yang menyimpan tawa Bapak lebih banyak daripada rumah kami sendiri.

Namun pagi itu, Mamah berkata pelan,

“Ndak usah ke rumah Nenek.”

Tidak ada penjelasan. Hanya mata sembap dan suara yang seperti ditahan agar tidak pecah.


Telepon rumah berdering.

Aku mengangkatnya.

“Halo?”

Yang terdengar hanya sesenggukan. Nafas berat. Lalu sunyi. Sambungan terputus seperti kalimat yang tak sempat selesai.

Aku belum tahu bahwa ada kabar yang terlalu besar untuk disampaikan dengan kata-kata.


Tak lama, sebuah mobil datang menjemput kami. Perjalanan menuju rumah Nenek terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Tante diam. Arga tertidur di pangkuannya. Aku memandangi jalan yang terasa asing, padahal sudah ribuan kali kulewati.

Rumah itu ramai.

Banyak sandal. Banyak suara berbisik. Banyak tatapan yang menghindar.

Lalu aku melihat Mamah.

Tubuhnya goyah. Tangannya dipegangi. Tangisnya seperti merobek udara. Tangis yang tak pernah kudengar sebelumnya. Tangis yang membuatku takut tanpa tahu apa yang harus kutakuti.

Dan kalimat itu jatuh.

“Bapakmu sudah tidak ada.”

Tidak ada gemuruh. Tidak ada petir. Tapi sesuatu di dalam dadaku runtuh tanpa suara.


Aku duduk di samping tubuh yang terbujur diam.

Itu Bapak.

Kugenggam tangannya. Dingin. Bukan dingin seperti pagi. Bukan dingin seperti hujan. Ini dingin yang tak bisa dihangatkan.

Aku menunggu air mata.

Tapi mataku kering.

Seperti ada bendungan yang belum tahu caranya jebol.


Arga berlari kecil menyambut Tante yang baru datang.

“Tante… bapakku sudah ndak ada…”

Ia mengucapkannya polos. Tanpa beban. Tanpa mengerti bahwa kalimat itu akan tinggal bersama kami seumur hidup.


Beberapa bulan kemudian, barulah aku mengerti.

Kehilangan tidak selalu datang sebagai tangis.

Kadang ia datang sebagai sunyi yang panjang.


Aku mulai sering menangis diam-diam. Setiap mendengar kabar duka. Setiap mendengar kata “bapak.” Setiap melihat teman diantar ayahnya ke sekolah.

Tapi aku tidak pernah memperlihatkannya.

Entah sejak kapan aku merasa harus kuat. Harus menjadi anak yang tidak menambah luka. Harus menjadi kakak yang mengisi ruang kosong tanpa pernah diajari caranya.


Kadang aku iri.

Sesederhana melihat seorang teman memanggil, “Pak!” dari balik pagar sekolah. Panggilan itu seperti cahaya kecil yang tak lagi kumiliki.

Ikhlas ternyata bukan pintu yang bisa langsung dibuka. Ia seperti jalan panjang yang harus dilalui tanpa tahu kapan sampai.


Aku berhenti datang ke rumah Nenek.

Rumah itu menyimpan gema hari terakhir Bapak.

Setiap sudutnya seperti memutar ulang adegan yang belum sempat kumengerti.

Nenek marah. Aku diam.


Hingga suatu hari Nenek pergi menyusul. Dan aku kembali melangkah ke rumah itu.

Tidak ada yang berubah. Bau kayu tua masih sama. Cahaya sore masih jatuh di tempat yang sama. Tapi kenangan berdiri lebih dulu menyambutku.

Sejak itu, aku tumbuh bersama sesuatu yang tak terlihat.

Di SMP. Di SMA. Di bangku kuliah.


Suatu hari di parkiran kampus, kulihat seorang mahasiswa diantar ayahnya. Ada tepukan di bahunya sebelum ia melangkah pergi.

Hatiku berbisik pelan,

seandainya…

Lalu aku menegur diri sendiri.

“Sudah takdirmu, Naya.”

Aku mencoba percaya bahwa hidup yang berbeda pasti memiliki maksud. Bahwa kehilangan adalah cara Tuhan membentuk ruang agar kita belajar berdiri.

Namun ada bagian yang tak pernah benar-benar selesai.

Setiap Mamah berkata, “Coba papamu masih ada…,”

ada sesuatu yang kembali retak.


Aku tidak pernah pandai bercerita tentang lukaku.

Tidak pada Mamah.

Tidak pada sahabat.

Aku menyimpannya rapi, seperti buku yang tak ingin kubuka lagi.

Tapi tengah malam selalu jujur.

Insomnia datang membawa potongan-potongan kenangan. Aku berusaha mengingat suara Bapak. Tawanya. Cara ia memanggil namaku.

Semakin kuingat, semakin kabur.

Dan itu yang paling menyakitkan.


Bukan hanya kehilangan tubuhnya.

Tapi perlahan kehilangan suaranya.

Ada marah yang tak tahu harus ditujukan ke mana. Pada waktu. Pada jarak. Pada diriku sendiri yang mulai lupa.

Kini, untuk sekadar memanggil “Pak,” rasanya asing di lidahku. Kata itu seperti milik masa lalu yang jauh.

Kadang aku memandangi Arga.

Ia tumbuh dengan kenangan yang lebih sedikit. Dengan cerita yang lebih samar. Dan tanpa diminta, aku merasa harus menjadi lebih dari sekadar kakak.


Seharusnya kami punya lebih banyak waktu.

Setidaknya aku sempat sembilan tahun.

Ia bahkan belum genap enam.

Sekarang, setiap berdiri di depan cermin, aku sering bertanya dalam hati—

apakah Bapak masih mengenaliku jika melihatku hari ini?

Ataukah aku yang perlahan tak lagi mampu mengenali suaranya sendiri di dalam ingatan?

Dan mungkin, kehilangan bukan tentang siapa yang pergi—

melainkan tentang suara yang pelan-pelan menghilang,

namun tak pernah benar-benar berhenti memanggil kita pulang.

Pulang tanpa Peta

Hari-hariku berjalan seperti biasa sebagai calon taruna. Bangun pagi, baris, latihan, lalu belajar. Di sela lelah, aku selalu ingat satu tujuan: membanggakan kedua orang tuaku. Itu saja sudah cukup membuat kakiku tetap melangkah.

Malam itu, suasana asrama terasa berbeda. Pembina memanggil namaku dan satu temanku—kami berasal dari daerah yang sama. Tidak ada penjelasan panjang. Kami hanya diminta mengemas barang dan membawa pakaian secukupnya.

Aku tidak curiga apa pun.

Perjalanan dimulai seperti perjalanan biasa. Kami mengobrol, tertawa, saling meledek. Di tengah jalan, kami berhenti di sebuah rumah makan. Makanannya terasa istimewa, mungkin karena sudah lama kami tak mencicipi rasa seperti itu.

“Izin nambah, boleh ya, Pak?” tanyaku polos.

“Di asrama nggak ada makanan seenak ini,” tambah temanku sambil tertawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Dua belas jam di jalan terasa panjang, tapi tidak menegangkan. Hingga akhirnya, pukul dua dini hari, mobil berhenti di sebuah persimpangan dekat rumahku.

Aku turun lebih dulu.

Di depan rumahku berdiri tenda. Banyak orang berkumpul. Lampu-lampu menyala lebih terang dari biasanya. Dadaku terasa aneh, tapi aku tetap melangkah. Aku menyalami satu per satu orang yang kutemui. Mereka membalas dengan tatapan yang tak kupahami.

Saat mendekati pintu, langkahku terhenti.

Ibuku duduk di lantai. Ia memeluk sesuatu yang tertutup kain batik. Tubuhnya bergetar. Lalu teriakannya memecah malam, membangunkan semua yang masih terlelap.

Saat itu juga, dunia seolah berhenti.

Ayahku telah pergi.

Padahal seminggu lalu, beliau masih menitipkan barang dari senior untukku. Katanya, “Biar kamu semangat.” Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar.

Malam itu aku belajar satu hal:

hidup bisa berubah tanpa aba-aba,

dan perjalanan pulang bisa menjadi perjalanan paling sunyi.

Namun di tengah kehilangan, tekadku justru mengeras.

Aku akan tetap berdiri.

Aku akan tetap melangkah.

Karena kini, alasan membanggakan orang tua tinggal satu—

dan itu tak boleh runtuh.

Malam itu tak ada tangis yang benar-benar selesai. Tak ada kalimat yang mampu menjelaskan apa yang kurasakan. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap wajah-wajah yang kukenal sejak kecil, namun terasa asing dalam satu malam.

Pembina menepuk pundakku pelan.

“Kamu istirahat dulu,” katanya singkat.

Aku mengangguk, meski tak tahu harus beristirahat di mana—di rumah yang baru kehilangan, atau di diri sendiri yang mendadak kosong.

Di sudut ruang, tas ranselku masih tergeletak. Pakaian taruna yang kubawa untuk beberapa hari ke depan belum sempat kusentuh. Aku menatapnya lama, seolah di dalam tas itu tersimpan jawaban atas apa yang harus kulakukan setelah ini.

Aku tidak tahu apakah esok aku akan kembali ke asrama.

Aku tidak tahu apakah langkahku masih akan sama.

Yang kutahu hanya satu:

perjalanan ini belum selesai.

Dan mungkin, justru di sinilah ujian sesungguhnya baru akan dimulai.


Musim Terpilih

 Aku menetap pada sebidang bumi

yang tak ramai disebut nama.

Di sana surya turun perlahan,

menyapa pucuk-pucuk hijau

yang setia berdiri

menjaga musimnya sendiri.


Banyak lidah menakar jarak,

aku menakar akar.

Sebab yang menghunjam ke dalam

tak gemar memamerkan tinggi.


Sunyi bukan selalu kurang,

jauh bukan selalu tertinggal.

Pada lengang yang tekun,

hidup belajar mencukupkan diri.


Di ruang yang bersahaja,

berjumpa suara-suara muda

dari kisah yang berlainan.

Mereka bukan serupa,

namun menuju arah yang sama:

bertumbuh.


Aku tak memburu puncak,

kupelihara kedalaman.


Dan kelak,

saat musim memanggil matang,

buah jatuh tanpa gegap gempita

sebagaimana keyakinan

yang tak pernah meminta disaksikan.


Yang Tumbuh di dalam Tanah

 “Bu, saya diterima.”

Kalimat itu tidak keras. Ia justru datang seperti desir angin yang menyentuh pelepah—pelan, tetapi menggetarkan batang terdalam.

Aruna tidak segera menjawab. Di tangannya, kertas-kertas tugas murid bergetar halus, seolah turut merasakan gempa kecil yang baru saja terjadi di dalam dadanya. Di hadapannya, Raka berdiri dengan mata yang menyala—mata yang dulu pernah redup oleh beban yang terlalu dini.

“Pendidikan Bahasa Indonesia, Bu.”

Langit siang menggantung luas di atas Rantala Estate. Sawit-sawit itu berdiri rapi, seperti harapan yang dilantunkan alam tanpa pernah meminta jawaban. Bau tanah, peluh, dan getah menyatu dengan udara—aroma kehidupan yang tidak gemerlap, tetapi jujur.

Di sanalah Aruna menyadari: tak semua keberhasilan bersuara lantang. Sebagian hanya berdesir, seperti akar yang menghunjam dalam gelap.

***

Agustus 2016 adalah persimpangan yang tidak memilihnya dengan lembut.

Ia datang membawa koper sederhana dan hati yang belum pulih dari kehilangan. Babe telah pergi, dan bersama kepergiannya, sebagian arah hidup ikut tercerabut. Rencana studi yang semula terang menjadi kabur. Peta masa depan terlipat tanpa sempat dibaca tuntas.

Namun hidup tidak memberi waktu untuk berkabung terlalu lama.

Ada adik yang harus sampai pada garis kelulusan. Ada rumah yang harus tetap berdiri meski tiangnya hilang.

Pesan singkat dari Rima—teman lama yang tinggal jauh—datang seperti tawaran takdir: Di sini butuh guru.

Aruna menjawabnya bukan dengan keberanian utuh, melainkan dengan kepasrahan yang dipelajari dari kehilangan.

Ia pikir ia hanya akan singgah.

Ternyata singgah bisa berubah menjadi pengabdian.

***

Sekolah itu berdiri di tengah perkebunan, seperti perahu kecil di lautan hijau. Setiap pagi, suara mesin truk mendahului bel. Tanah menempel di sepatu murid. Tangan-tangan mereka lebih akrab dengan duri pelepah daripada lembar buku.

“Untuk apa bermimpi tinggi, Bu?” tanya seorang murid pada suatu pagi yang basah oleh embun. “Kami ini anak kebun.”

Aruna memandang mereka satu per satu—anak-anak yang tumbuh di antara batang-batang tegak yang seragam, namun menyimpan cerita berbeda di bawah tanahnya.

“Karena pohon tidak pernah memilih di mana ia ditanam,” jawabnya perlahan. “Tetapi ia selalu memilih seberapa dalam ia berakar.”

Sejak itu, ia mengajar bukan hanya tata bahasa, melainkan daya tahan. Ia mengubah laporan menjadi kisah, pidato menjadi keberanian, puisi menjadi tempat berlindung.

Di malam hari, ketika hujan menghantam atap seng mess guru, rindu datang seperti gelombang yang tak bisa dibendung. Rindu pada Ibu yang menunggu kabar. Rindu pada Babe yang tak sempat melihatnya berdiri tegak. Rindu pada masa depan yang sempat ia tunda.

Namun setiap kali rindu hampir melumpuhkannya, ia teringat: ada hidup lain yang menunggu disentuh.

***

Raka hampir hanyut.

Nilainya jatuh seperti buah yang dipetik sebelum matang. Ia ingin berhenti, menyerah pada takdir yang diwariskan.

“Mimpi tidak mengenyangkan, Bu,” katanya suatu sore dengan mata yang kehilangan arah.

Aruna mengajaknya berdiri di tepi lapangan, memandang deretan sawit yang tampak sama tinggi.

“Kamu hanya melihat batangnya,” ucapnya lirih. “Padahal kekuatan pohon ada di bawah tanah.”

Sejak hari itu, Raka belajar bertahan.

Ia menulis tentang ayahnya yang pulang dengan bahu letih. Tentang ibunya yang menyimpan cemas dalam diam. Tentang dirinya yang ingin mematahkan garis nasib tanpa mematahkan hormat.

Aruna menyimpan tulisan itu seperti menyimpan benih.

***

Tahun-tahun berlalu tanpa upacara.

Adiknya lulus. Murid-muridnya tumbuh. Rindu tetap tinggal, tetapi tidak lagi menjadi luka terbuka. Ia menjelma doa yang tenang.

Dan hari ini, Raka berdiri membawa kabar yang tak pernah ia bayangkan akan ia dengar dari seorang anak kebun.

“Bu, saya ingin menjadi guru.”

Angin bergerak panjang di antara pelepah, seperti bisikan alam yang mengamini.

Aruna belum sempat menyusun jawaban ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan singkat membuka pintu yang pernah ia tutup rapat:

Beasiswa dinyatakan lolos tahap akhir.

Waktu seolah menangguhkan detiknya.

Mimpi yang ia kubur dalam tanah pengorbanan kini mengetuk kembali dari kedalaman.

Ia menatap langit yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Sawit-sawit itu tetap berdiri—tidak meninggalkan tanahnya, namun terus meninggi tanpa gaduh.

Apakah ia akan tetap menjadi akar—menguatkan dari dalam, tanpa terlihat?

Ataukah kini waktunya menumbuhkan cabang yang lebih jauh, membawa serta seluruh musim yang pernah ia lewati?

***

Bel berbunyi.

Suara itu tidak hanya memanggil murid kembali ke kelas.

Ia juga memanggil Aruna pada keputusan yang belum ia beri nama.

Dan di antara tanah, rindu, serta mimpi yang kembali menyala—

ia berdiri,

belum memilih,

namun tak lagi takut.

***