Senin, 16 Februari 2026

Rumah yang Katanya Tidak Jauh

 Tidak ada anak yang bercita-cita lahir dari dua orang tua yang berpisah.


Aku pun tidak.


Sejak kecil, aku ikut Ibu. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang juragan kaya di kota kecil kami. Aku tumbuh di antara suara pel lantai, denting piring, dan perintah-perintah halus yang selalu diucapkan dengan sopan. Ibu bekerja dari pagi sampai malam. Aku belajar mengerti tanpa banyak bertanya.


Sekarang usiaku sudah SMA.


Beberapa waktu lalu, sekolah mengadakan acara penting, penyerahan penghargaan sekaligus pentas seni. Teman-temanku datang bersama ayah dan ibu mereka. Ada yang dirangkul dari belakang, ada yang dipeluk setelah turun panggung, ada yang disuapi kue kecil dengan tawa bahagia.


Aku berdiri di samping Ibu.


Ibu tersenyum bangga. Tangannya menggenggam jemariku erat-erat. Tapi entah kenapa, di tengah riuh tepuk tangan, ada ruang kosong dalam dadaku.


Aku ingin sekali merasakan dipeluk Ayah.


Bahkan sampai usia seperti ini, Ibu tak pernah benar-benar menceritakan siapa Ayah kandungku. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama, “Ayahmu tinggal di daerah itu.” Tangannya menunjuk samar ke arah utara kampung.


Tanpa alamat. Tanpa nama yang jelas. Tanpa cerita.


Musim liburan tiba. Aku meminta izin pulang ke rumah Nenek di kampung lama. Ibu mengangguk pelan. “Jangan cari yang tidak perlu,” pesannya sebelum aku berangkat.


Kalimat itu justru membuatku semakin ingin tahu.


Di rumah kayu bercat hijau milik Nenek, angin sore terasa lebih jujur. Nenek menyambutku dengan pelukan hangat dan aroma minyak kayu putih yang khas.


Suatu malam, saat lampu ruang tengah redup, aku memberanikan diri bertanya.


“Nek… rumah Ayah sebenarnya di mana?”


Nenek terdiam cukup lama. Wajahnya yang keriput terlihat ragu.


“Sebenarnya… tidak jauh dari sini,” katanya pelan.


Jantungku berdegup lebih cepat. “Tidak jauh? Berarti bisa aku datangi?”


Nenek menggeleng. “Sudahlah. Tidak semua yang dekat harus kau dekati.”


Jawaban itu seperti pintu yang dibuka sedikit, lalu ditutup kembali.


Besoknya, aku mencoba cara lain. Aku menemui Pak RT. Barangkali beliau tahu sesuatu.


“Pak… saya mau tanya tentang Ayah saya.”

Pak RT memandangku lama. Tatapannya bukan bingung, lebih seperti menimbang sesuatu.


“Bapak tidak tahu, Nak,” jawabnya singkat. Lalu, dengan suara lebih pelan, ia menambahkan, “Dan mungkin tidak perlu tahu.”


Tidak tahu. Atau tidak mau memberi tahu?


Sepanjang jalan pulang, pikiranku penuh tanda tanya. Kalau rumahnya tidak jauh, kenapa semua orang seperti bersepakat menyembunyikannya dariku? Ada apa sebenarnya dengan Ayahku?


Apakah ia tidak ingin ditemui?

Ataukah ada cerita yang terlalu pahit untuk diulang?


Malam terakhir sebelum kembali ke kota, aku berdiri di teras rumah Nenek. Di kejauhan, lampu-lampu rumah penduduk berkelip kecil. Bisa jadi, salah satu cahaya itu berasal dari rumah Ayah.


Rumah yang katanya tidak jauh.

Rumah yang semua orang tahu, tapi tak seorang pun mau menunjuknya.


Aku memeluk lututku sendiri, mencoba membayangkan wajah yang tak pernah kulihat. Apakah matanya sama denganku? Apakah ia pernah memikirkan anak yang tumbuh tanpa tahu namanya?


Angin malam berembus pelan, membawa suara anjing menggonggong dari arah utara.


Aku menatap ke sana lama sekali.


Kalau memang tidak jauh, mengapa terasa begitu mustahil untuk sampai?


Minggu, 15 Februari 2026

Dua Puluh Ribu: UTUH

Di lemari kamarku masih tersimpan map biru berisi piagam-piagam SMP. Juara pidato. Juara olimpiade. Juara cerpen. Namaku sering dipanggil ke depan lapangan saat upacara. Tepuk tangan terdengar nyaring.

“Belajar lagi. Jangan puas.”

Kalimat itu lebih sering kudengar daripada, “Kamu capek?”


Saat masuk SMA dan tinggal di asrama, semuanya berubah. Tidak ada lagi suara yang mengatur jam belajarku. Tidak ada yang memeriksa nilai ulanganku setiap malam. Untuk pertama kalinya, aku merasa longgar. Seperti tali yang selama ini mengikat, tiba-tiba dilepas.


Anehnya, bersama kebebasan itu, semangatku ikut menguap.


Teman-temanku santai. Tidak ada yang ambisius ikut lomba. Pulang sekolah nongkrong, tertawa, membicarakan hal-hal remeh. Aku ikut hanyut. Tidak ada lagi target. Tidak ada lagi piala. Dan, entah kenapa, aku tidak merasa kehilangan.


Mungkin selama ini aku berlari bukan karena ingin menang, tapi karena takut dimarahi.


Ayahku sudah lama menikah lagi. Tentang ibu kandungku, aku bahkan tidak tahu wajahnya. Foto pun tak pernah kulihat. Hidupku sejak kecil diatur ibu tiri. Les ini, lomba itu, target nilai sekian. Aku menurut. Ayah hanya diam, seolah semua baik-baik saja.


Di asrama, aku tidak pernah meminta uang saku. Ibu tiri pun tak pernah mengirim. Katanya aku sudah terlalu banyak menghabiskan uang untuk sekolah dan lomba-lomba dulu. Lagi pula, makan sudah ditanggung sekolah. Itu cukup.


Cukup.


Pernah suatu waktu, uangku tinggal dua puluh ribu. Uang itu pemberian terakhir sebelum aku berangkat ke asrama tiga bulan lalu. Selama tiga bulan, uang itu tak pernah kugunakan. Saat teman-teman jajan di kantin, aroma gorengan dan es teh manis terasa menggoda. Tapi aku menahan diri.


Tidak apa-apa. Aku masih bisa makan tiga kali sehari.

Uang ini harus utuh saat pulang nanti.


Ada kepuasan aneh setiap kali aku membuka dompet dan melihat lembar itu masih rapi. Seolah-olah aku sedang membuktikan sesuatu bahwa aku tidak merepotkan siapa pun.


Hari kepulangan tiba. Aku turun dari mobil dengan tas besar di punggung. Rumah terasa sama seperti dulu, sunyi yang aneh. Di ruang tengah, adikku yang masih kecil berlari menghampiri.


“Kak, aku mau jajan…” rengeknya, menarik ujung bajuku.


Aku terdiam. Tanganku masuk ke saku celana, menyentuh lembar dua puluh ribu yang selama tiga bulan kujaga seperti rahasia. Uang itu hangat oleh lipatan dan waktu.


Tanpa banyak berpikir, kuberikan saja padanya.


Matanya berbinar. Ia berlari keluar rumah sambil tertawa kecil.


Aku berdiri di ambang pintu, memandangi punggungnya yang menjauh. Tiga bulan menahan keinginan, tiga bulan menjaga selembar uang, dan kini habis dalam satu gerakan.


Aneh. Tidak ada penyesalan.


Di dalam dada, justru ada rasa yang lama hilang, hangat dan ringan. Bukan karena bebas. Bukan karena jauh dari aturan. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku melakukan sesuatu bukan karena disuruh, bukan karena target, bukan karena obsesi siapa pun.


Aku melakukannya karena aku mau.


Map biru berisi piagam masih ada di kamarku. Tapi sore itu, di antara langkah kecil adikku yang riang, aku mulai bertanya-tanya:


Selama ini, siapa sebenarnya yang ingin menjadi juara? Mereka… atau aku?


Sabtu, 14 Februari 2026

Sebelum Tinta Mengering

Namaku Arga. Seminggu lalu aku resmi lulus dari SMK. Teman-temanku sibuk membicarakan masa depan. Ada yang sudah diterima kerja, ada yang lolos kuliah negeri, ada juga yang santai karena orang tuanya mampu.


Aku? Justru paling banyak diam.


Suatu siang, aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Jantungku berdebar. Ternyata aku mendapat tawaran full beasiswa D1 di salah satu kampus ternama di Indonesia.


Full beasiswa. Gratis. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.


Aku pulang dengan kepala penuh pikiran.


Di rumah, adikku yang kedua sedang membantu Mamah melipat baju. Dua adikku yang lain masih bermain di lantai. Ayah belum pulang kerja. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Gaji Ayah hanya cukup untuk makan dan kebutuhan pokok. Sejak sekolah, aku tak pernah meminta uang jajan. Aku tahu keadaan rumah.


Pernah suatu waktu aku menjuarai lomba tingkat provinsi. Uang apresiasi yang kuterima langsung kuberikan pada Mamah.


“Hanya ini yang bisa Arga kasih,” kataku waktu itu.


Mamah menangis. Tapi aku tahu itu tangis bangga.


Malam ketika aku menceritakan soal beasiswa, suasana rumah berubah.


“Ambil kuliahnya, Ga,” kata Mamah tanpa ragu. “Kan semua beasiswa.”


“Tapi biaya sekolah adik?” tanyaku pelan. “Seragam, buku, daftar ulang…”


“Kita usahakan,” jawab Mamah, meski aku tahu itu tidak mudah.


Tiba-tiba adikku menyela, “Udah, gak usah berdebat. Aku gak usah sekolah saja.”


Aku menoleh tajam. “Jangan ngomong gitu.”


“Aku gak apa-apa, Kak.”


Aku tahu dia berbohong. Tidak ada anak seusianya yang benar-benar tidak ingin sekolah. Dia hanya tidak ingin jadi beban.


Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan penempatan kerja bagi lulusan. Namaku termasuk. Tempatnya bahkan satu lingkungan dengan tempat kerja keluargaku.


Di tanganku ada dua hal: surat penempatan kerja dan formulir konfirmasi beasiswa.


Aku merasa berdiri di persimpangan.


Malam sebelum batas terakhir pengumpulan berkas, aku duduk sendirian di ruang tamu. Formulir itu terbuka di depanku. Pulpen sudah di tangan, tapi tidak bergerak.


Dari kamar, terdengar suara adikku membaca buku pelajaran. Pelan. Seperti takut terdengar.


Aku memejamkan mata.


Keesokan paginya, aku menyerahkan satu keputusan ke sekolah.


Beberapa minggu kemudian, aku sudah mengenakan seragam kerja. Gaji pertamaku kuterima dengan perasaan campur aduk. Sebagian langsung kuserahkan untuk kebutuhan sekolah adik-adikku.


“Aku bakal belajar yang rajin, Kak,” kata adikku sambil memeluk buku barunya.


Aku tersenyum. Setidaknya untuk sekarang, semuanya terasa benar.


Namun malam itu, saat semua sudah tidur, ponselku berbunyi. Grup kelas ramai dengan foto gedung kampus, kartu mahasiswa, dan cerita hari pertama kuliah.


Ga, kamu jadi masuk, kan? tulis salah satu temanku.


Aku terdiam.


Di meja kecil kamarku masih tersimpan map berlogo kampus itu. Pihak kampus ternyata memberiku waktu satu minggu tambahan jika aku berubah pikiran.


Besok adalah hari terakhir.


Aku membuka map itu perlahan. Di halaman terakhir ada kolom tanda tangan yang masih kosong.


Tiba-tiba terdengar suara Mamah dari dapur. “Ga, kamu belum tidur?”


“Belum, Mah,” jawabku.


Beliau tidak bertanya apa-apa lagi. Tapi aku tahu, mungkin beliau masih menyimpan harapan yang tidak lagi diucapkan.


Aku menatap tanda tangan kosong itu lama sekali.


Di satu sisi, ada gaji bulanan dan wajah adik-adikku yang bisa sekolah tanpa takut.

Di sisi lain, ada kesempatan yang mungkin tak datang lagi.


Pulpen sudah di tanganku.


Aku menarik napas panjang.


Dan tepat ketika ujung tinta menyentuh kertas—


aku masih belum tahu, nama siapa yang akan kutulis untuk masa depanku.