Selasa, 30 September 2014

Puisi inspirasi dari "tinggi"

Tinggi Hotel Made


Capek menghantui
Buat apa mikir lagi
Lautan kapuk melambai
Tertidur.

Gatel!

Tinggi!
            Gi
                        Ting
                                    Gi
                        Ting
Gi
Tinggi…..!

Dasar tinggi

Puisi

Syahdunya Desa Adat Panglipuran
Karya: Isnainy Muji S.

Tanah luhur
Damai sentosa nan subur

Mengalir udara sepi
Angin menyapu lembut wajah ini
Langkah kakipun turut menyusuri

Deretan pondok- pondok khas
Tumpukan batuan berhias

Jalan  permadani
Terkhusus untuk permaisuri

Desa  suci

Puisi tentang Bali

Galauku tertinggal di Joger
Karya: Isnainy Muji S.

Langit mewek, menangis
Sore yang gerimis

Komotra merangkak datang
Penumpang bak  gajah kehausan
Berlarian
Rebutan

Joger melambai riang
Antrean panjang
Gunungan pakaian menjulang

Langkah kaki enggan berhenti
Ke sana kemari
Pilih itu apa ini


Cukupkan galauku di Joger

Feature Kuliner "Petis Jagung" Khas Juwana, Pati

Nikmatnya “Petis Goreng Eco”
Masyarakat awam mengetahui petis adalah sejenis bahan tambahan yang dipakai sebagai bahan olesan untuk tahu yang berwarna hitam pekat. Namun di Pati, ada hidangan bernama petis namun berbeda dengan petis-petis lainnya yaitu Petis Runting dan Petis Jagung. Jika Anda berkunjung atau sekedar jalan-jalan, khususnya ke Juwana Anda dapat mampir untuk berburu makanan Petis Jagung. Petis Jagung ini bisa Anda temukan di Pasar Juwana dan tempatnya pun tidak di ruko-ruko besar melainkan di emperan-emperan pasar yang tidak menetap.
Saya juga baru mengetahui tentang Petis Jagung ini dari salah seorang teman saya pada saat observasi. Karena saya tertarik dengan namanya “Petis Jagung”, jadi saya mencoba untuk mengangkat produk olahan Petis Jagung ini sebagai bahan feature agar Petis Jagung ini dapat berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.
Tepat pada Hari Selasa tanggal 25 Desember 2013 saya berkunjung ke rumah salah satu penjual petis jagung yaitu ke Desa Dukuhtalit RT 02 RW 03 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Saya tidak sendiri melainkan saya ditemani oleh teman-teman saya. Saya berkunjung ke rumah salah satu penjual Petis Jagung, pasangan suami istri Bapak Sukawi dan Ibu Sutiwi untuk mengetahui proses pembuatan petis jagung ini.
Asal usul penamaan Petis Jagung ini adalah yang paling utama yaitu bahannya dari jagung, kemudian diolah dengan air kaldu bandeng presto. Nah, disebutlah Petis Jagung.
Petis Jagung ini pertama kali dicetuskan sejak tahun 1960an dan cara mengajarkan pembuatannya secara turun temurun. 
Ibu Sutiwi mengatakan bahwa bahan-bahan untuk membuat Petis Jagung yaitu 1 kg jagung yang dihaluskan dan sudah disangrai; 2,5 liter air kaldu bandeng presto; 3 liter air mineral; cabe rawit+ bawang merah+ bawang putih ditumis (sesuai selera); 1 royco, dan 1 sdm penyedap rasa.
“Cara membuat Petis Jagung yaitu tepung jagung yang sudah disangrai ditambahkan 3 gelas air kaldu bandeng presto dan 2 liter air mineral, panaskan dengan api sedang dan aduk merata sampai mengental. Setelah mengental, siapkan penggorengan yang lebih besar, panaskan minyak secukupnya dan tambahkan campuran bawang merah, bawang putih dan cabai yang ditumis tadi sesuai selera kemudian tuangkan adonan. Tambahkan lagi 2 gelas air kaldu bandeng presto dan 1 liter air mineral, aduk sampai mendidih. Setelah mendidih, siapkan mangkuk untuk cetakannya, tuangkan adonan ke dalam mangkuk yang sudah disediakan lalu tunggu sampai kering. Dari adonan tersebut dapat menghasilkan 48 cetakan. Setelah kering, masukkan ke dalam kardus kemasan yang sudah disediakan, alas kardus dilapisi dengan daun pisang dan bagian atas petis ditutup dengan daun pisang juga. Petis Jagung siap untuk dipasarkan,” urai Ibu Sutiwi sambil mengolah Petis Jagung saat diwawancarai.

Petis Jagung nikmat disantap ketika masih hangat. Saat musim hujan, biasanya masyarakat sekitar menjadikan Petis Jagung sebagai lauk dengan menambahkan irisan bawang merah, bawang putih dan cabai untuk tambahan tumisan.
Petis Jagung sudah dipasarkan ke berbagai pasar-pasar yaitu daerah Pati: Gembong, Tlogowungu, Ngemplak, untuk daerah Kudus: Bareng dan Bulumanis. Pedagang Petis Jagung biasa berangkat dari rumah setelah Shubuh, jika pasarnya ramai hanya satu tempat saja namun kalau agak sepi pindah ke tempat lain. Ketika jualannya laris setengah tujuh sudah habis, dan paling lambat setengah delapan pagi sudah pulang ke rumah.
Harga per satu kotaknya Rp 1.000,00 untuk area Juwana dan Rp 1.500,00- Rp 2.000,00 untuk area Luar Juwana.
Petis Jagung hanya ada satu rasa saja, rasa pedas. Petis Jagung ini bisa tahan sehari semalam dan jika disimpan di pendingin akan lebih tahan lama.
Bagi Anda yang suka berburu kuliner, silahkan mencoba Petis Jagung dan rasakan sensasi nikmatnya Petis Jagung.




“Sebaiknya sih disudahi saja, mumpung belum terlanjur. Kalau saudaraan sih gak papa.” Kata emmakku. Emmakku sedang berbincang dengan tetangga sebelah. Awalnya sih ndak ada niatan untuk membicarakan tentang masa depanku.  Ini kan lagi lebaran hari ketiga di tempatku, kenapa malah jadi ngomongin tentangku sih? Aku paling males kalau berbicara mengenai hal ini. Terlebih privasiku. Aku yang sedari tadi terdiam mendengarkan emmakku berbicara hanya bisa diam diam dan diam. Sampai di rumah aku langsung menuju kamarku tercinta. Kurenungi apa saja kata-kata yang diucapkan emmakku. Miris memang. Tapi mau bagaimana lagi, ya beginilah. Tidak hanya sekali beliau berkata hal ini kepadaku, sudah berkali-kali. Tapi malam ini rasanya nyesek sekali. Aku yang tak terima dengan semua apa yang harus terjadi. Kenapa harus seperti ini? Kenapa tidak sesuai dengan rencanaku? Apakah aku tidak boleh berencana?
Pacaran terjalin sejak Juli 2011 sampai detik ini Juli 2014, haruskah kandas begitu saja? Sulit dipercaya memang. Walaupun tak semulus perjalanan kasih, namun baru pertama kalinya kini, aku mampu menjalani hubungan dengan seorang cowok sampai selama itu, dan hanya satu cowok saja. Dan apakah usahaku harus sia-sia? Iya?
Alasan orang tuaku menasehatiku seperti itu, tidak lain dan tidak bukan ingin menjaga keutuhan rumah tangga kakaknya. Hidup di Jawa memang harus patuh dengan kebudayaan Jawa. Konon katanya kalau aku menikah dengannya sih, ada yang kalah antara kita ataukah kakaknya. Itu semua karena kakaknya sudah dapet orang di tempatku, jadi kalau aku sama dia ndak boleh lah. Apalagi katanya simbahnya juga orang sini, kalau kata emmakku “Kebo balik kandang” dan itupun ndak boleh menurut ajaran Jawa. Percaya nggak sih? Apakah di jaman modern seperti ini harus percaya dengan begituan? Apa aku boleh menentangnya? Bagaimana caraku menentang semuanya, kalau dia juga percaya dengan hal seperti itu? Apakah aku juga harus belajar menerima kenyataan pahit ini?
Tuhan, seperti inikah ending yang kau berikan kepadaku, aku hanya ingin menikah dengannya, tidak dengan yang lain. Dengannya, udah dengannya ajah. Nggak mau dengan yang lain. Apakah dia punya keinginan yang sama denganku?
Teringat waktu itu saat aku membaca buku pribadinya, di sana tertulis semua cita-citanya, kubaca sampai bawah, kok nggak ada namaku di deretan tulisan yang begitu banyaknya? Apakah itu tanda kalau aku tak akan pernah jadi cita-cita hidupnya, sakit memang saat itu, pengen nangis sih, tapi ngga deh, berusaha husnudzon ajah.

Tuhan, langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Cukupkah sekian saja? 

Senin, 29 September 2014

Ayahku, Inspiratorku.

Sang Inspirator
Oleh: Isnainy Muji S.

Waladh dhoolliin,” ujar ayah lirih. Kulihat tubuh lemah yang menyender di tembok imam. Baru saja mulai rakaat pertama salat Maghrib, berhenti. Aku yang sedari tadi mengamati ayah sembari memakai mukena, pun sempat bertanya dalam hati. Ada apa dengan ayah? Tidak seperti biasa beliau lemah ketika jadi imam. Memang kali ini puasa pertama di bulan ramadhan. Tapi kan sudah buka puasa, nampaknya energi ayah belum benar-benar pulih walaupun asupan telah dimakannya.
Teringat sore tadi, ketika ayah keluar dari kamar,  ia mengeluh agak kliyengan. Memang kondisi ayah yang sebenarnya tak boleh melaksanakan puasa, memaksakan diri menjalani puasa. Penyakitlah yang menggerogoti raganya. Penyakit tujuh tahun yang lalu dan sampai sekarang, menjadikannya kurus, litlungkulit balung”, kulit yang menjuntai kendor tak berisi daging. Mengharukan saat melihat kondisi ayah yang sekarang.
Sempat aku dengar ketika ibuku menghimbau pada ayah agar tidak usah puasa penuh.
“Pak, bulan ini ndak usah puasa penuh saja, gak papa. Toh Bapak kan harus patuh apa kata dokter. Kondisi Bapak tidak memungkinkan untuk menjalani puasa penuh, himbau ibu.
“Ngga usah puasa penuh gimana, Nduk! Ya aku harus tetep puasa penuh. Masih untung diberi kesehatan tahun ini. Bisa mengikuti puasa. Lha kalau tahun besok sudah ndak bisa ikut puasa gimana?” jawab ayah tegas.
Ibu terdiam. Dan hanya mengiyakan apa kata ayah. Ibu yang telah merawat ayah dengan penuh kasih sayang. Yang mengatur segala urusan makanannya dan menyiapkan segala urusan obatnya.
Tersadar aku. Aku yang telah siap memakai mukena, mendengarkan ayah mengulang lagi takbiratul ihram. Kurasakan beliau gigih melawan rasa lemas yang menyelimutinya.
Assalamu’alaikum warahmatullah,” seru ayah dengan dibarengi tolehan kepala menghadap ke kiri sebagai gerakan akhir dalam sholat. Dilanjutkan zikir dan doa.
Kami pun kembali ke rumah. Ayah langsung menuju kamarnya. Ya, jarak rumah dan mushola tidak begitu jauh, karena mushola berdiri tepat setengah meter dari rumah. Mushola yang dibangun di tanah wakaf ibu. Dulu warga antusias membantu pembangunan, ada yang mengirim pasir, semen, genting, kayu dan alhamdulillah terciptalah mushola itu. Mushola yang kini penuh kontroversi. Mushola yang penuh jamaah hanya ketika ramadan saja. Ketika hari biasa, paling cuma 10 jamaah. Saat mushola jadi dan bau cor masih kental menyengat hidung, ayah menyuruh salah seorang ulama’ di tempatku agar mengajar ngaji anak-anak sekitar yang ikut jamaah. Ayah pun bersedia untuk menggaji. Ternyata, niat tulus ayah tak direspon baik oleh ulama’ itu. Tak berapa lama kemudian ulama’ itu lebih memilih kembali ke rumahnya saja dan berhenti mengajar di mushola. Alasannya pun tidak logis, hanya karena anak didiknya nakal-nakal, beliau memutuskan berhenti mengajar. Dan ayah tetap menggajinya. Sungguh sangat disayangkan sekali. Kalau saja waktu itu aku sudah cukup umur dan memiliki bekal mengajar agama banyak, aku juga tak akan menyiakan kesempatan itu, walaupun hanya sekedar mengajar ngaji, tak digaji pun tak masalah.
Semenjak kejadian itu, ayah sering mendapatkan hujatan dari tetangga. Ada yang bilang, beliau tak menggaji ulama’ makanya berhenti ngajar, ada yang bilang lagi, ayah galak, ayah main tangan dengan anak yang belajar ngaji di mushola, dan masih banyak yang lainnya. Ayah hanya bisa menerima dengan ikhlas hujatan itu.
Menjelang tarawih, aku cerita kepada ibu mengenai kejadian pas salat Maghrib. Dan ibu mulai cemas.
“Apa nanti ayah sanggup jadi imam tarawih dengan kondisi seperti itu?”
 Helaan nafas panjang ibu menahan tangis begitu kurasakan jua. Keluar dari kamar, ayah menyuruhku untuk menghubungi paman agar jadi imam tarawih malam itu. Ternyata paman sedang kurang enak badan pula. Ayah mencari nama di kontak hpnya, sepertinya akan menelepon, selang beberapa kemudian terdengar suara di balik hp mengiyakan ayah. 
Aku duduk di tengah antara ayah dan ibu. Tangan kanan memijit lembut pundak ayah dan tangan kiri memijit lembut pundak ibu. Gurauan mulai menghangatkan suasana.
“Kok beda ya, yang kiri gendut, yang kanan kerontang,” godaku.
“Yaiyalah, lha wong yang kanan jarang makan.” Sindir ibu.
“Bukannya jarang makan tapi memang lagi tirakat.” Jawab ayah.
Suasana yang begitu aku rindu ketika aku harus berpisah karena studiku. Suasana yang terkadang membuatku menangis sendiri. Dan suasana yang selalu aku inginkan tetap demikian adanya sampai aku wisuda nanti. Besar harapanku, kelak ketika wisuda bergelar sarjana pendidikan, aku masih punya orang tua utuh. Semoga ayah tetap dalam lindungan Tuhan, dan semoga ayah selalu diberikan kesehatan serta panjang umur. Doaku dalam sujudku. Amin.
Keterbiasaan dan kegigihan ayah menjalani puasa tahun ini menjadikanku semangat.  Aku harus bisa. Aku harus mampu. Dan aku harus yakin.

***

Coretan Unyu

Katakan “Tidak” untuk Buruk Sangka
Oleh: Isnainy Muji S.

Pagi yang cerah. Secerah seragam yang kupakai pagi ini. Semangatku menggebu-gebu dan bahkan aku terlalu semangat sehingga jadi over semangat. Jatah untuk praktik mengajar hari ini. Ya, praktik PPL 1. Ketika namaku pertama kali disebut, seketika senam jantung ‘dag dig dug’. Dengan penuh kesiapan, akupun maju. Bismillah, ucapku dalam hati. Langkah kakiku menuntunku menuju meja yang membisu tepat di pojok ruangan kelas.
“Assalamu’alaikum. Selamat pagi, semuanya!” sapaku.
“Wa’alaikum salam. Pagi, Bu.” jawab murid-murid serempak.
Ku hembuskan napas. Detak jantung yang berdegup kencang, perlahan mulai stabil dan normal. Kucoba tuk mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama.
Aku pun mulai meraih laptop dan menyiapkan materi. Aku berusaha membuat suasana kelas siap untuk menerima pelajaran. Mula-mula kutampilkan gambar melalui OHP.
“Ada yang tahu ini gambar apa?” tanyaku.
“Gambar perempuan, Bu. Ada dua gadis, ada nenek, dan ada ibu,” jawab Nisa.
Semua murid tertawa karena Nisa dengan kepolosannya menjawab gambar yang kutampilkan. Akupun menghargainya meskipun belum sepenuhnya benar.
“Ada jawaban lain?” tanyaku kepada murid lain.
“Saya, Bu. Itu gambar Bawang Merah, Bawang Putih. Ibu Bawang Merah dan nenek,” jawab Rina.
Tepuk tangan riuh dari murid lain untuk Rina menambah suasana kelas aktif. Rina yang memang tergolong cerdas di kelas itu menjawab pertanyaanku dengan tepat.
“Tepat sekali, Rina. Jawaban kamu benar. Itu adalah gambar Bawang Merah, Bawang Putih, Ibu Bawang Merah, dan nenek,” tegasku.
Kuperhatikan satu persatu murid di kelas ini, nampak di pojok bangku paling belakang, murid laki-laki yang terlihat kurang semangat. Lumayan tampan. Dan wajahnya tak membosankan. Sempat dalam hati bertanya, apa dia tidak suka dengan cara mengajarku? Ataukah dia sedang ada masalah? Tapi entahlah. Akupun mencoba menghilangkan sangkaku. Kualihkan pandanganku ke OHP lagi. Aku pun melanjutkan ngajar.
“Ibu ingin kalian untuk berhitung,” pintaku.
Semua murid antusias untuk berhitung sesuai anjuranku. Dan berakhir nomor 17 murid laki-laki tadi, ternyata namanya Soni. Aku membagikan lembar cerpen beserta lembar pertanyaan kepada semua murid.
“Silakan kalian baca, kalian cermati cerpen yang telah ibu bagikan. Kemudian kerjakan soal-soalnya. Kalian yang menyebutkan nomor ganjil, silakan kerjakan soal bernomor ganjil. Dan bagi kalian yang menyebutkan nomor genap, silakan kerjakan soal bernomor genap. Bisa dimengerti?” perintahku.
“Bisa, Bu,” jawab mereka dengan kompak.
Semua murid mulai melakukan perintahku. Aku berusaha mendekati dan memeriksa mereka yang sedang asyik dengan lembar masing-masing. Langkahku berhenti tepat di samping kiri tempat duduk Soni. Murid satu ini beda dengan murid lainnya, kenapa ya? Ada apa ya? Tapi entahlah, aku tidak boleh gegabah mengambil simpulan.
“Bu, sudah selesai,” kata Rina membuyarkan sangkaku.
“Bagaimana yang lain, sudah selesai semua?” tanyaku.
“Sudah, Bu,” jawab mereka serempak.
“Baiklah, sekarang ibu menginginkan kalian untuk membentuk lingkaran. Silakan kalian yang tadi menyebutkan nomor ganjil membentuk lingkaran terlebih dahulu.   Menghadap keluar. Dan bagi kalian yang tadi menyebutkan nomor genap silahkan berada di sisi luar mereka.”
Semua murid berusaha dengan cepat melakukan apa yang aku perintahkan. Mereka berusaha melakukan apa yang aku inginkan. Senang sekali melihat mereka aktif dan membantu melancarkan proses pembelajaran.
“Kalian yang berada di lingkaran dalam, sampaikan informasi yang kalian peroleh kepada teman yang berada di hadapan kalian. Setelah selesai, kalian yang berada di lingkaran luar geser dua langkah ke kanan, dan sampaikan informasi yang kalian peroleh kepada teman yang berada di hadapan kalian,” tambahku.

Aku mulai mengawasi satu persatu murid yang sedang bertukar info. Hanya satu yang menjadi perhatian lebih, Soni, ya Soni. Kenapa dengan anak ini? Apakah aku membosankan? Apakah cara mengajarku? Kenapa? Apa yang harus aku lakukan? Ya memang tidak semua murid menyukaiku. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk membuat mereka tidak bosan dengan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan, menurutku. Ya, menyenangkan menurutku, belum tentu menyenangkan untuk si Soni. Tapi tidak menjadi masalah buatku, malah aku berterimakasih kepada Soni walaupun tidak aku ucapkan secara langsung sih. Ia telah membuatku tertantang agar mengajar lebih baik lagi kelak.